Beranda » Uncategorized » Tujuan Dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali Di Masyarakat

Tujuan Dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali Di Masyarakat

T Diposting oleh pada 4 July 2009
F Kategori
b Comments Off on Tujuan Dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali Di Masyarakat
@ Dilihat 20 kali

Sapi Bali

Sapi bali merupakan ternak potong andalan di Indonesia dan merupakan plasma nutfah orisinil Indonesia yang harus dilestarikan biar tidak punah. 

Dibalik bermacam-macam kelebihan yang dimiliki sapi bali ternyata sangat banyak hal yang mulai mengancam keberadaan populasi, kualitas genetik, kualitas dan kuantitas produksi selain kemurnian darah sapi bali.

Sapi bali dikenal sebagai ternak penghasil daging yang potensial baik bagi Bali sendiri maupun bagi daerah lain ibarat Jawa, NTB, Sulawesi dan daerah lainnya.  Bali sendiri mempunyai visi: terwujudnya peternakan yang maju, efisien, berwawasan agribisnis dan berbasis di pedesaan. 

Untuk mencapai visi tersebut salah satu cara yang akan ditempuh yaitu dengan meningkatkan populasi dan produksi ternak untuk mempertahankan Bali sebagai salah satu daerah produsen ternak berkualitas khususnya sapi Bali.  

Sapi bali merupakan ternak potong andalan di Indonesia dan merupakan plasma nutfah orisinil In Tujuan dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali di Masyarakat
Sapi bali jantan

Sapi bali merupakan ternak potong andalan di Indonesia dan merupakan plasma nutfah orisinil In Tujuan dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali di Masyarakat
Sapi bali betina

Peningkatan populasi dan produksi ternak belakangan menjadi warta yang terus berkembang, sejalan dengan harapan Indonesia untuk berswasembada daging pada tahun 2010. 
Belakangan daging sapi semakin diminati oleh masyarakat sehubungan dengan merebaknya masalah flu burung yang kasusnya menyebar ke hampir seluruh wilayah di Indonesia dan Bali yaitu salah satu daerah yang sudah positif tertular. 

Disisi lain Bali hingga ketika ini setiap tahunnya  baru bisa memenuhi sebagian dari jumlah yang diminta oleh daerah lain ibarat Jakarta dan Jawa Barat.  Tahun 2005 jumlah pengiriman sapi bali ke luar Bali berjumlah 74.042 ekor, meningkat 26,22% dari tahun sebelumnya.

Dilihat dari fenomena ini, maka Bali sebagai salah satu produsen sapi bali sudah seharusnya mengantisipasi kekurangan yang ada selama ini dengan jalan menerapkan teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas  sapi bali.

Sapi bali  selama ini dikenal sebagai ternak yang dipelihara secara individual dengan cara-cara tradisional. Hal ini menimbulkan sapi bali perkembangannya agak lambat dan cenderung stagnan, namun disisi lain teknologi pakan untuk ternak (sapi) telah tersedia dan perlu diterapkan oleh peternak secara kontinyu sehingga ternak yang dihasilkan oleh peternak-peternak di Bali meningkat kualitas dan produktivitasnya sehingga bisa memenuhi seruan pasar.

Bali juga dikenal sebagai gudang sekaligus daerah pemurnian sapi Bali serta sebagai sumber bibit yang diyakini mutunya paling baik dibandingkan daerah lain.

Dengan pengembangan sapi bali juga akan melestarikan salah satu plasma nutfah ternak lokal yang selama ini menjadi salah satu ikon ternak nasional. 

Agar plasma nutfah ternak lokal (Bali) sanggup dikembangkan dan menunjukkan peranan aktif dalam pengembangan ternak, perlu dipertimbangkan karakter-karakter agribisnis yang dipersyaratkan, yaitu :
  1. berorientasi pada seruan pasar;
  2. mempunyai daya saing yang tinggi;
  3. harus sanggup meningkat secara riil dalam arti harus bisa mencukupi kebutuhan pangan yang harus tumbuh, baik jumlah, ragam, dan mutunya;
  4. efisien dalam penggunaan lahan disertai dengan penerapan teknologi yang bisa meningkatkan produksi per satuan  luas/satuan waktu;
  5. terpadu dengan sektor-sektor lain guna meningkatkan nilai tambah melalui kaitan ke depan (forward linkages) dan kaitan ke belakang (backward linkages). 

Produktivitas yang rendah sanggup disebabkan oleh lantaran tumpuan pemeliharaan dan administrasi ternak yang rendah dan kurang terarah, dimana petani ternak belum memperhatikan mutu pakan, tata cara pemeliharaan, perkandangan, penyakit dan lain-lain.

Salah satu faktor yang mendukung produktivitas yaitu fertilitas, dan fertilitas ternak betina akan menunjukkan hasil yang optimal apabila memperhatikan faktor-faktor seperti: bebas dari penyakit reproduksi, bebas dari duduk kasus pada waktu beranak, bebas dari duduk kasus ketidak seimbangan nutrisi, dan kondisi ternak tidak terlalu kurus atau gemuk.

Dalam upaya peningkatan produktivitas dan mutu sapi bali perlu terobosan teknologi yang bersifat spesifik lokasi dan berwawasan lingkungan. Upaya-upaya peningkatan produktivitas telah banyak dilakukan antara lain dengan perbaikan mutu pakan.

Potensi Sumber Daya Manusia

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan 5 peternak secara acak (lampiran), sebagian besar peternak merupakan usia lanjut yaitu berumur 60-75 tahun. Hanya 1 peternak yang masih berumur 43 tahun.

Sapi bali merupakan ternak potong andalan di Indonesia dan merupakan plasma nutfah orisinil In Tujuan dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali di Masyarakat
Sapi Bali di padang padang gembala

Mata pencaharian pokok peternak responden yaitu berternak dengan perjuangan sambilan bertani. Ternak yang mereka pelihara merupakan milik sendiri dan dikerjakan secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarganya.  

Pengalaman dalam memelihara sapi bali umumnya telah usang (turun-temurun) dengan jumlah ternak yang dimiliki rata-rata 1-5 ekor. 

Pengetahuan peternak dalam memelihara sapi bali, hampir semua responden berasal dari orang bau tanah atau bersifat turunan, kerabat, tetangga, dan penyuluhan yang diberikan oleh instansi terkait.

Tujuan utama peternak dalam memelihara sapi bali yaitu sebagai alat pertanian, sebagai sumber pendapatan dan sebagai penghasil pupuk kandang.

Pengalaman dalam memelihara sapi bali di Kabupaten Klungkung walaupun telah berlangsung lama, namun masih banyak ditemukan kekurangan terutama dalam hal pengelolaannya. 

Hal ini disebabkan lantaran masih rendahnya tingkat pendidikan peternak, sehingga ada keterbatasan dalam menangkap ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya mengenai cara pengelolaan ternaknya secara intensif. 

Luas sangkar terlalu kecil dan sempit, kebersihan sangkar yang kurang menerima perhatian dari peternak, begitu pula dengan tumpuan pemberian pakan yang masih kurang.

Pola Pemeliharaan Sapi Bali

Hampir semua petani di Bali memelihara sapi bali. Pada mulanya, sapi bali tidak saja dipelihara sebagai ternak, tetapi juga sebagai binatang kesayangan. Petani memelihara sapi bali tanpa memperhitungkan input dan output pemeliharaannya.

Cara pemeliharaan yang demikian dikenal dengan istilah cara tradisional. Meskipun demikian, petani tidak akan menentukan sembarang sapi untuk dipelihara. Mereka mempunyai patokan dan syarat-syarat tertentu untuk sapi yang akan dipeliharanya.

Syarat-syarat tersebut diantaranya keleng, angob, balung gede, lemuh, cicih dan tanduk silabesada. Selain itu, petani akan menghindari memelihara sapi bali yang mempunyai ciri-ciri injin, bunglun, buras, gading, selebo, pengecap putih, panjut, tanduk sono dan sapi yang mempunyai pusaran rambut (unyeng-unyeng) di daerah kepala dan wajah.

Berdasarkan kuesioner, cara beternak sapi bali di Kabupaten Klungkung  masih dilakukan secara ekstensif dengan pengertian sapi dipelihara di luar sangkar sepanjang hari (tidak dikandangkan secara khusus) atau sapi hanya dikandangkan seadanya.

Pemeliharaan sapi bali umumnya dilakukan dengan menambatkannya di tegalan yang ditumbuhi runput yang subur.

Namun ada pula sapi bali yang dibuatkan sangkar cabut, yaitu sangkar beratap yang bisa dipindahkan. Kandang ibarat ini biasanya sanggup dipindahkan dari tempat yang rumputnya sudah habis dinakan sapi ke tempat gres yang rumputnya masih banyak.

Sapi bali di Bali, banyak yang hidup tanpa sangkar sepanjang hayatnya, dan hari ke hari sapi hanya ditambatkan di bawah pohon yang rindang. Kandang sapi bali umumnya terbuka ke semua sisi, sehingga angin sanggup berhembus dengan leluasa dari semua sisi yang terbuka itu.

Sapi bali merupakan ternak potong andalan di Indonesia dan merupakan plasma nutfah orisinil In Tujuan dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali di Masyarakat
Seorang peternak menggembalakan sapinya

Di samping sangkar yang terbuka ibarat itu, ada pula sangkar yang berada di dalam tempat yang ditutupi oleh pagar yang rapat yang ditumbuhi tanaman semak sehingga sangkar itu mempunyai dinding untuk menahan derasnya hembusan angin pada saat-saat tertentu.

Masyarakat Bali jarang membangun sangkar sapi di lingkungan rumahnya. Kandang sapi itu biasanya dibangun di persawahan, di ladang, atau di teba (kebun belakang rumah). Pilihan lokasi sangkar ini memang anggun lantaran tidak mencemari pemukiman dan limbahnya segera sanggup dimanfaatkan.

Lantai sangkar sapi bali biasanya sengaja dibentuk lebih tinggi dari permukaan tanah sekitarnya sehingga sangkar tidak gampang becek. Lantai sangkar dibentuk dari tanah yang sengaja dipadatkan sehingga memudahkan ketika membersihkan.

Seekor sapi bali memerlukan ruang sekitar  2 – 2,5 meter (panjang), 1 – 1,5 meter (lebar) dan 2 – 2,5 meter (tinggi). Tempat pakan biasanya diletakkan di luar pembatas kandang.

Oleh lantaran itu, perjuangan pemeliharaan sapi terutama sapi bali yang dipelihara rakyat memerlukan penanganan khusus.  Mengingat sapi bali membutuhkan perhatian yang serius biar bisa mencapai produksi yang maksimal, termasuk tumpuan pemberian pakan.

Dari data yang diperoleh, tumpuan pemberian pakan pada ternak sapi bali tidak teratur. Pakan hijauan yang diberikan hanya sekedarnya.

Biasanya berupa rumput lapangan dan dedunan yang ada disekitar lingkungan ibarat batang pisang, pelepah daun kelapa yang sudah dikupas, batang jagung, dan lain-lain. 

Setiap hari, paling tidak sekali dalam sehari, sapi digiring ke sumber air atau sungai untuk diberi minum dan dimandikan. Pemberian mineral dan vitamin belum dilakukan.

Vaksinasi dan pengobatan pada sapi yang sedang sakit terkadang tidak diterapkan atau dilakukan dengan seadanya dengan memanggil dokter binatang terdekat.
           

Tujuan Utama Pemeliharaan Sapi Bali

Berdasarkan kuisioner, tujuan utama peternak responden dalam memelihara sapi bali yaitu sebagai alat pertanian sekaligus penghasil pupuk sangkar dan sebagai sumber pendapatan.

Sapi bali sebagai tenaga kerja pertanian dan penghasil pupuk kandang
Sebagai tenaga kerja, sepasang sapi bali sanggup dipekerjakan untuk : 
  1. membajak sawah;
  2. sebagai penghasil pupuk kandang; dan 
  3. untuk menarik geroba. Sebagai pembajak sawah, sepasang sapi bali sanggup dipekerjakan selama 4 jam atau sanggup membajak sawah seluas 0,4 Ha per hari.

Sementara itu, seekor sapi bali sanggup menghasilkan rata-rata 16 kg kotoran (tinja) per hari yang bila diolah akan menghasilkan 8 kg pupuk organik. 

Oleh lantaran itu, dalam satu tahun, seekor sapi bali cukup umur sanggup menghasilkan 2,920 ton pupuk organik yang cukup untuk memupuk tanaman seluas 1 Ha per animo tanam.

Sapi bali juga digunakan untuk menarik gerobak pengangkut hasil-hasil pertanian ibarat padi dan jerami.

Peran sapi bali sebagai pekerja makin berkurang dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh penggunaan traktor yang sanggup membajak sawah secara lebih cepat dan lebih efisien. 

Demikian pula fungsinya sebagai pengangkut telah beralih pada alat-alat transportasi bermotor yang perkembangannya cukup pesat hingga ke pedesaan.

Meskipun demikian, sapi bali tetap dipelihara oleh petani untuk memproduksi pupuk sangkar dan untuk mengerjakan lahan yang tidak terjangkau oleh traktor misalny lahan yang lokasinya terlalu curam atau yang ukuran petaknya kecil.

Sapi bali sebagai sumber pendapatan

Sapi bali mempunyai sifat-sifat subur, cepat beranak (cicih), gampang menyesuaikan diri dengan lingkungan, sanggup hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Itu sebabnya, sapi bali menjadi ternak unggulan yang disukai oleh petani di Indonesia.

Selain keunggulan di atas, sapi bali juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya harganya cenderung meningkat. 

Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini, belum pernah terjadi penurunan harga sapi bali di pasaran, baik sapi bibit maupun sapi bakalan untuk sapi potong, sehingga sapi menjadi sumber pendapatan yang dihandalkan oleh petani.

Sapi akan dijual sewaktu-waktu ketika petani membutuhkan uang. Seiring dengan bergulirnya modernisasi pertanian ketika penggunaan traktor dan alat angkut bermotor semakin meluas, pandangan petani terhadap ternak sapi mulai bergeser dari ternak yang dipelihara secara tradisional ke ternak yang dipelihara secara intensif.

Hal inilah yang perlu menerima proteksi penuh dari pemerintah daerah setempat dan pusat, sehingga nantinya akan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat yang sekaligus juga akan menjaga kelestarian populasi dari sapi bali itu sendiri.

Sapi bali selalu mempunyai pemasaran yang baik sehingga petani sanggup menjualnya setiap ketika ketika petani sedang membutuhkan uang untuk keperluan hidupnya. Maka tak jarang petani menimbulkan sapi bali sebagai tabungan hidup.

Sapi bali menunjukkan pendapatan yang relatif tinggi jikalau dibandingkan dengan komoditi ternak lainnya. Misalnya, pada pertengahan tahun 2002 harga seekor sapi betina dan jantan yaitu berturut-turut Rp 2.350.000,- dan 2.650.000,-/ ekor, dan sapi potong dengan berat >400 kg berharga Rp 12.150/kg/berat hidup.

Referensi

Anonimous. 2005. Laporan Tahunan Dinas Peternakan Propinsi Bali. Dinas Peternakan Propinsi Bali.

Batan, I Wayan, dkk. Buku Ajar Sapi Bali dan Penyakitnya. Fakultas Kedokteran Hewan-Universitas Udayana. Penerbit: Universitas Udayana. Bali

Santosa, Undang. 2002. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta

Komentar dinonaktifkan: Tujuan Dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali Di Masyarakat

Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini

a Artikel Terkait Tujuan Dan Cara Pemeliharaan Sapi Bali Di Masyarakat

Ciri Burung Cendet Jantan Dan Betina Dewasa/Trotol

Ciri Burung Cendet Jantan Dan Betina Dewasa/Trotol

T 19 June 2009 F A admin

Cendet merupakan salah satu burung kicau yang mempunyai bunyi kicau yang indah dan bervariasai. Cendet sendiri dikenal dengan nama lain burung pentet atau toet ini bersifat teritorial dan cenderung galak. Maka tak jarang kalau kita hendak memegang cendet/pentet yang liar,... Selengkapnya

Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

T 23 June 2009 F A admin

Proses fisiologis A. rantai asam amino protein polipeptida. Protein ini lebih dari 1000 individu telah dicirikan dalam serum. Kebanyakan protein yang murni tidak biokimia. protein dikombinasikan dengan materi lainnya. Sebagai contoh, lipoprotein dan polisakarida (gula) B. plasma yang mengandung fibrinogen... Selengkapnya

Tips Merawat Burung Trucukan / Trocokan Semoga Cepat Gacor Dan Ngeropel

Tips Merawat Burung Trucukan / Trocokan Semoga Cepat Gacor Dan Ngeropel

T 28 April 2009 F A admin

Burung merbah cerukcuk (Pycnonotus Goiavier) ialah sejenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Orang Sunda menyebutnya cerukcuk atau jogjog, orang Jawa menyebut terucukan, trocokan, cerocokan, mengikuti bunyi suaranya yang khas. Dalam bahasa Inggris disebut Yellow-vented Bulbul. Trucukan berkerabat bersahabat dengan burung kutilang,... Selengkapnya

+ SIDEBAR