Beranda » Uncategorized » Pelestarian Dan Pengembangan Sapi Bali

Pelestarian Dan Pengembangan Sapi Bali

T Diposting oleh pada 2 July 2009
F Kategori
b Comments Off on Pelestarian Dan Pengembangan Sapi Bali
@ Dilihat 23 kali

Penyebaran Sapi Bali

Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng (Bos (Bibos) banteng) yaitu jenis sapi yang unik, dan hingga dikala ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional baluran, dan Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di ujung barat pulau jawa. 

Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
Sapi bali
Sapi bali merupakan sapi orisinil Indonesia yang telah usang didomestikasi suku bangsa Bali yang ada di pulau Bali dan kini telah tersebar di banyak sekali tempat yang ada di Indonesia mirip Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa Timur.  Selain di Indonesia, sapi bali juga sanggup ditemukan di Malaysia dan Australia.

 Sapi bali dibawa ke Australia oleh imigran asal Eropa yang tiba ke Australia sekitar tahun 1827, akan tetapi pada tahun 1849 masyarakat Eropa tersebut hengkang dari pemukimannya dan sapi bali dibiarkan bebas dan berkembang secara alami dan hingga tahun 1961 populasinya tercatat sekitar 2000 ekor.

Dari Pulau Bali yang dipandang sebagai pusat perkembangan sekaligus pusat bibit, sapi Bali menyebar dan berkembang hampir ke seluruh pelosok nusantara. Penyebaran sapi Bali di luar Pulau Bali yaitu ke Sulawesi Selatan pada tahun 1920 dan 1927, ke Lombok pada masa ke-19, ke Pulau Timor pada tahun 1912 dan 1920. 

Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
penyebaran sapi bali dan sapi lainya di Indonesia

Selanjutnya sapi Bali berkembang hingga ke Malaysia, Philipina dan Ausatralia bab Utara. Sapi Bali juga pernah diintroduksi ke Australia antara 1827-1849.

Populasi sapi Bali yang merupakan bangsa sapi orisinil Indonesia, berasal dari hasil domestikasi terus menerus banteng liar Bos sondaicus (Bos banteng). Populasinya dikala ini ditaksir sekitar 526.031 ekor. 

Kekhawatiran akan terus menurunnya populasi sapi Bali dipicu oleh kenyataan bahwa selama krisis ekonomi, tingkat undangan sapi lokal meningkat seiring mahalnya harga daging sapi impor. Sejumlah besar sapi Bali hidup dikirim ke beberapa kota bear di pulau Jawa menjadi sering terlihat belakangan ini. Sedikitnya 50.000 ekor sapi Bali setiap tahunnya dikapalkan ke luar propinsi Bali.

Selain sapi Bali, bangsa sapi lokal lainnya yaitu sapi Grati, sapi Madura dan sapi Peranakan Ongole (keturunan hasil persilangan antara sapi Ongole jantan dan sapi betina Jawa). 

Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara Bos sondaicus dan Bos indicus, ciri-ciori fenotipik punduk diperoleh dari B. indicus, sedangkan warna kulit coklat atau merah bata sama dengan B. sondaicus. 

Dari jumlah total populasi sapi lokal sebanyak 12.000.000 ekor, 500.000 ekor merupakan tipe sapi perah dan sisanya 11.500.000 ekor tergolong tipe sapi potong. Perkiraan pertambahan populasi sebanyak 3.500.000 ekor per tahun.

Sejak usang sapi Bali sudah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, dan mendominasi spesies sapi di Indonesia Timur. 

Peternak menyukai sapi Bali mengingat beberapa keunggulan karakteristiknya antara lain : mempunyai feritiliast tinggi, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, cepat menyesuaikan diri apabila dihadapkan dengan lingkungan baru, cepat berkembang biak, bereaksi positif terhadp perlakuan pertolongan pakan, kandungan lemak karkas rendah, keempukan daging tidak kalah dengan daging impor. 

Fertilitas sapi Bali berkisar 83 – 86 %, lebih tinggi dibandingkan sapi Eropa yang 60 %. Karakteristik reproduktif antara lain : periode kehamilan 280 – 294 hari, rata-rata persentase kebuntingan 86,56 %, tingkat kematian kelahiran anak sapi hanya 3,65 %, persentase kelahiran 83,4 %, dan interval penyapihan antara 15,48 – 16,28 bulan.

Tabel 1. Penampilan Sapi Bali dengan Pemberian Pakan Konsentrat Selama 154 Hari. (Performance of Bali Cattle Feeding with Concentrate Feed for 154 Days)
Parameter
Nilai (Value)
Rata-rata Berat Hidup (kg)
Average Live Weight (kgs)
334.7
Konsumsi Pakan Bahan Kering (kg/ekor/hari)
Dry Matter Feed Consumption(kg/head/day)
6.02
Rata-rata Laju Pertumbuhan Harian (kg/ekor/hari)
Average Daily Gain (kg/head/day)
0.66
Nisbah Konversi Pakan
Feed Convertion Ratio
9.12
Kecernaan Bahan Kering (%)
Organic Matter Digestibility (%)
86.60
Catatan : Pada penelitian di Institut Pertanian Bogor, sapi Bali dengan berat awal 250 kg dibagi dalam 2 tahap perlakuan pakan. Tahap pertama diberikan rumput selama 3 bulan, diikuti pertolongan adonan rumput dan konsentrat selama 154 hari, secara aktual meningkatkan berat tubuh sebanyak 50 kg.

Kekhasan Fisik Sapi Bali

Bentuk tubuh sapi Bali mirip banteng, tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil akhir proses domestikasi. 

Secara umum ukuran tubuh sapi bali termasuk kategori sedang dengan bentuk tubuh memanjang, dada dalam, tubuh padat dengan perdagingan yang kompak, kepala agak pendek, pendengaran bangun dan dahi datar, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping.  Kulitnya berwarna merah bata, cermin hidung, kuku, dan bulu ujung ekornya (switch) berwarna hitam.  

Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
Sapi bali jantan dan betina
Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih (white stocking).  Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bab pantatnya dan pada paha bab dalam kulit berwarna putih tersebut tampak berbentuk oval (white mirror).  

Pada punggung sapi bali selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.

Bulu sapi Bali umumnya pendek, halus dan licin. Sapi Bali betina mempunyai tanduk tetapi ukurannya lebih kecil dari sapi Bali jantan. 


Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
Sapi Bali jantan remaja dan pedet

Umumnya tanduk berukuran besar, runcing dan tumbuh agak ke bab luar kepala dengan panjang untuk sapi jantan antara 25-30 cm dengan jarak anata kedua ujung tanduk 45-65 cm. Sapi Bali jantan dan betina tidak mempunyai punuk dan seolah tidak bergelambir.

Ukuran tubuh sapi Bali termasuk dalam kategori sedang dimana sapi Bali betina lebih kecil dibandingkan dengan jantan. 

Ukuran tubuh sapi Bali juga sangat dipengaruhi oleh tempat hidupnya yang berkaitan dengan administrasi pemeliharaan di tempat pengembangan. Sebagai citra umum ukuran tubuh yang dilaporkan Pane (1990) dari empat lokasi berbeda (Bali, NTT, NTB dan Sulawesi selatan) diperoleh rataan tinggi gumba antara 122-126 cm (jantan) dan 105-114 cm (betina); panjang tubuh 125-142 cm (jantan) dan 117-118 cm (betina); lingkar dada 180-185 cm (jantan) dan 158-160 cm (betina). Rataan ukuran tubuh lainnya tinggi panggul 122 cm, lebar dada 44 cm, dalam dada 66 cm, lebar panggul 37 cm

a.  Sapi Jantan

Sapi bali jantan  berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi bali betina.  Warna bulu sapi jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat bau tanah atau hitam legam, setelah sapi remaja kelamin atau pada umur 1,5 tahun dan berakhir pada umur tiga tahun.  

Warna hitam sanggup berubah kembali menjadi coklat bau tanah atau merah bata apabila sapi itu dikebiri sebelum pubertas.  

Perubahan warna mulai dialami dari bab belakang tubuh dan menjalar ke depan. Perubahan itu berlangsung selama sekitar empat bulan dan sapi bali jantan itu tidak pernah menjadi hitam kalau sapi itu dikebiri sebelum pubertas.

b.  Sapi Betina

Sapi bali betina semestinya berwarna merah bata, ada pula yang berwarna hitam (sapi injin), dan sapi injin ini sanggup beranak dengan warna normal.  

Ketika gres lahir, anak sapi (pedet atau godel) sapi bali baik jantan maupun betina, berwarna keemasan atau merah kecoklatan dan pada bab dorsal kakinya terdapat noktah yang berwarna jauh lebih muda kalau dibandingkan dengan warna kulit di bab tubuh lainnya.
Disamping tumpuan warna yang umum dan standar, pada sapi Bali juga ditemukan beberapa tumpuan warna yang menyimpang, yaitu:
  1. Sapi injin yaitu sapi Bali yang warna bulu tubuhnya hitam semenjak kecil, warna bulu pendengaran bab dalam juga hitam, pada yang jantan sekalipun dikebiri tidak terjadi perubahan warna;
  2. Sapi mores yaitu sapi Bali yang semestinya pada bab bawah tubuh berwarna putih tetapi ada warna hitam atau merah pada bab bawah tersebut;
  3. Sapi tutul yaitu sapi Bali yang bertutul-tutul putih pada bab tubuhnya;
  4. Sapi bang yaitu sapi Bali yang kaos putih pada kakinya berwarna merah;
  5. Sapi panjut yaitu sapi Bali yang ujung ekornya berwarna putih;
  6. Sapi cundang yaitu sapi Bali yang dahinya berwarna putih.


Karakteristik umum sifat-sifat reproduksi sapi Bali 

Umur remaja kelamin rata-rata 18-24 bulan untuk betina dan 20-26 bulan untuk jantan ; umur kawin pertama betina 18-24 bulan dan jantan 23-28 bulan; beranak pertama kali 28-40 bulan dengan rataan 30 bulan dengan usang bunting 285-286 hari, dan jarak beranak 14-17 bulan dengan persentase kebuntingan 80-90% dan persentase beranak 70-85%. 

Rata-rata siklus estrus yaitu 18 hari, pada sapi betina remaja muda berkisar antara 20 – 21 hari, sedangkan pada sapi betina yang lebih bau tanah antara 16-23 hari  selama 36 – 48 jam berahi dengan masa subur antara 18 – 27 jam, dan menawarkan birahi kembali setelah beranak antara 2-4 bulan. 

Sapi Bali menawarkan estrus musiman (seasonality of oestrus), 66% dari sapi Bali menawarkan estrus pada bulan Agustus – januari dan 71% dari kelahiran terjadi bulan Mei – Oktober dengan sex ratio kelahiran jantan : betina sebesar 48,06% : 51,94%. 

Persentase kematian sebelum dan setelah disapih pada sapi Bali berturut-turut yaitu 7,03% dan 3,59%. Persentase kematian pada umur remaja sebesar 2,7%.

Berat lahir sapi Bali untuk anak betina sebesar 15,1 kg dan 16,8 kg untuk anak jantan dengan kisaran 12-17 kg, di Malaysia sebesar 16,7 kg dan Australia sebesar 16-17 kg. 

Sedangkan berat lahir sapi Bali pada pemeliharaan dengan mono kultur padi, tumpuan tanam padi-palawija dan tegalan masing-masing sebesar 13,6, 16,8 dan 17,3 kg Berat sapih kisaran antara 64,4-97 kg, untuk sapih jantan sebesar 75-87,6 kg dan betina sebesar 72-77,9 kg; 74,4 kg di Malaysia; 82,8 kg pada pemeliharaan lahan sawah, 84,9 kg dengan tumpuan tanam padi – palawija, 87,2 kg pada tegalan. 

Berat umur setahun berkisar antara 99,2-129,7 kg dimana sapi betina sebesar 121-133 kg dan jantan sebesar 133-146 kg. 

Berat remaja berkisar antara 211-303 kg untuk ternak betina dan 337-494 kg untuk ternak jantan. Sedangkan pertambahan bobot tubuh harian hingga umur 6 bulan sebesar 0,32-0,37 kg dan 0,28-0,33 kg masing-masing jantan dan betina. 

Pertambahan bobot tubuh pada banyak sekali administrasi pemeliharaan antara lain pemeliharaan tradisional sebesar 0,23-0,27 kg ; penggembalaan alam sebesar 0,36 kg ; perbaikan padang rumput sebesar 0,25-0,42 kg ; pemeliharaan intensif sebesar 0,87 kg.

Sapi Bali mempunyai sedikit lemak, kurang dari 4% ( tetapi persentase karkasnya cukup tinggi berkisar antara 52-60% dengan perbandingan tulang dan daging sangat rendah; komposisi daging 69-71%, tulang 14-17% lemak 13-14%.

Keunggulan Sapi Bali

Sapi bali yaitu salah satu bangsa sapi unggul di Indonesia. Keunggulan sapi ini tampak pada hidupnya yang sederhana, gampang dikendalikan dan jinak. 

Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
Peternakan sapi bali
Sapi bali sanggup hidup hanya dengan memanfaatkan hijauan yang kurang gizi, tidak seselektif dalam menentukan makanan dan mempunyai daya cerna yang baik serta daya penyesuaian yang tinggi.

Beberapa kelemahan sapi Bali

Sapi Bali ternyata mempunyai kerentanan yang sangat tinggi terhadap beberapa jenis penyakit. Sapi Bali sangat peka terhadap penyakit Jembrana/Ramadewa dan Malignant Catarrhal Fever (MCF). 

Penyakit Jembrana hanya menyerang sapi Bali, selain pernah terjadi di Propinsi Bali, pernah juga terjadi di Propinsi Lampung, Sumatera Selatan (disebut penyakit Ramadewa) dan Jawa Timur (disebut Penyakit Banyuwangi). 
Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
Gejala penyakit Jembrana

Daging sapi Bali mempunyai kandungan lemak yang rendah dan tanpa marbling. Aspek ini ditambah dengan tekstur yang alot dan warna yang gelap menjadi kelemahan kalau daging sapi Bali dipergunakan sebagai materi untuk steak, slice-beef, sate dan daging asap, alasannya yaitu kurang disukai oleh konsumen. 

Bagi industri pengolahan daging, warna daging yang gelap dan citarasa yang berpengaruh yang dimiliki sapi Bali sangat dibutuhkan untuk pembuatan sosis, burger, daging kalengan, dan lain-lain.

Peranan sapi bali

Sapi bali ini mempunyai kedudukan sangat penting dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. 

Sapi Bali mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat selain sebagai penghasil daging, petani kecil memanfaatkannya sebagai ternak kerja, penghasil pupuk, dan tabungan. 

Di Pulau Bali, sapi Bali dipakai untuk pariwisata upacara keagamaan mirip program ”gerumbungan” atau lomba langgar sapi, balapan sapi (makepung), dan upacara ”Pitra Yadnya” atau sarana pengantar roh ke nirwana khususnya sapi Bali yang berwarna putih

Sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng  Pelestarian dan Pengembangan Sapi Bali
Makepung

Masyarakat memanfaatkan sapi bali sebagai penghasil pupuk, tenaga kerja, tabungan, materi baku industri, komuditas perdagangan antar pulau, symbol status, binatang qurban, hingga keperluan pendukung keperluan pariwisata. 

Memilih Bibit Sapi Bali

Kriteria dalam pemilihan sapi bali dikelompokkan menurut tampilan pada bagian-bagian tubuh sapi. Diantaranya :

  1. Kepala yang mencakup bentuk tanduk, mata, dan telinga.
  2. Badan sapi. Sapi yang dipilih yaitu sapi yang mempunyai dada yang dalam dan besar. selain itu yang harus diperhatikan yaitu bentuk gumba, punggung serta perut.
  3. Kaki sapi. Kaki yang baik yaitu kaki yang mempunyai balung yang besar dan kokoh, serta bentuk kuku.
  4. Bulu dan kulit sapi. Pada pedet bulu yang dipilih yaitu bulu yang bergairah sedangkan yang remaja bulu yang halus, dan lembut. Sedangkan kulit yaitu kulit yang longgar apabila dicubit.
  5. Ekor sapi. Orang bali tidak menyukai sapi panjut.

Referensi

Batan, I Wayan. 2006. Sapi Bali Dan Penyakitnya. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Bali

Ditjen Bina Produksi Peternakan. 2002. Buku Statistik Peternakan Tahun 2002. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Djarsanto. 1997. Kebijaksanaan Pelestarian Ternak Asli Indonesia Dalam Rangka Mendukung Pengembangan Perbibitan Ternak Nasional. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 7-8 Januari 1997. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Hlm. 182-185. 

National Research Council. 1983. Little-Konwn Asian Animals with a Promising Economic Future. Washington, D.C. National Academic Press.

Payne, W.J.A. and Rollinson, D.H.L. 1973. Bali Cattle. World Anim. Rev. 7, 13–21

Payne, W.J.A. and J. Hodges. 1997. Tropical Cattle; Origin, Breeds, and Breeding Policies. Blackwell Sciences.

Komentar dinonaktifkan: Pelestarian Dan Pengembangan Sapi Bali

Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini

a Artikel Terkait Pelestarian Dan Pengembangan Sapi Bali

Cara Memaster Lovebird Semoga Ngekeknya Lebih Bervariasi

Cara Memaster Lovebird Semoga Ngekeknya Lebih Bervariasi

T 28 June 2009 F A admin

Kalangan lovebird lovers sekarang cenderung menyukai burung yang mempunyai bunyi kicauan lebih bervariasi, dengan isian-isian yang menarik. Untuk mendapat lovebird dengan kualifikasi menyerupai itu, kita tidak dapat menunggu hingga burung mau mengeluarkan suaranya. Proses pemasteran semenjak dini juga sangat menentukan.... Selengkapnya

Pilih Cucak Jenggot Jantan Atau Betina Untuk Lomba ?

Pilih Cucak Jenggot Jantan Atau Betina Untuk Lomba ?

T 3 July 2009 F A admin

Sobat terutama Kicau Mania atau Cucak Jenggot Mania tentunya sudah lebih faham daripada aku perihal burung berjenggot semenjak lahir ini. Burung yang pada mulanya tidak berharga, kemudian banyak dipelihara sebagai burung rumahan. Setelah dipelihara usang dan gacor, burung ini berperan... Selengkapnya

Tentang Sugar Glider Dan Hibernasi/Tidur Selama Waktu Tertentu Pada Demam Isu Dingin

Tentang Sugar Glider Dan Hibernasi/Tidur Selama Waktu Tertentu Pada Demam Isu Dingin

T 27 May 2009 F A admin

Sugar Glider Dan Hibernasi atau Hibernation in Sugar Glider. Kami mau menjelaskan wacana Sugar Glider yg mengalami hibernasi.  Apakah hibernasi itu? Adalah masa atau periode hewan yg dalam waktu tertentu, akan bersembunyi didalam ruangan atau kawasan yang hangat untuk tidur.... Selengkapnya

+ SIDEBAR