Beranda » Uncategorized » Pencemaran Udara Dan Permasalahanya

Pencemaran Udara Dan Permasalahanya

T Diposting oleh pada 29 June 2009
F Kategori
b Comments Off on Pencemaran Udara Dan Permasalahanya
@ Dilihat 3 kali
Lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan selama kurun waktu lebih dari tiga dekade. Rakyat semakin terpinggirkan dan termarjinalkan hak-haknya untuk hidup yang layak. 

Selain itu, kelompok masyarakat yang paling rentan ialah akseptor dampak terbesar dari adanya suatu kerusakan. Hal ini perlu untuk segera mengembalikan kedaulatan rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap ancaman atas sumber-sumber kehidupan mereka.

sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
Pencemaran udara


sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
Macam-macam pencemaran udara
 
UU 23/1997 mendefinisikan lingkungan hidup sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk insan dan perilakunya yang mensugesti kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.

Oleh lantaran itu, secara eksplisit, sanggup dinyatakan bahwa tingkat kelangsungan perikehidupan dan kesejahteran insan ditentukan oleh kualitas lingkungan hidup. Pengertian lingkungan hidup tercakup pula apa yang didefinisikan sebagai sumberdaya alam: “Sumber daya alam ialah semua benda, daya, keadaan, fungsi alam, dan makhluk hidup, yang merupakan hasil proses alamiah, baik hayati maupun nonhayati, terbarukan maupun tidak terbarukan.” 

Agraria mendefinisikan lingkungan hidup, yaitu seluruh bumi, air, ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (menurut UU No.5 Tahun 1960).

Adapun ketahanan dan keberlanjutan ekologi mengacu kepada ketersediaan daya dukung tanah, air, udara, dan keanekaragaman kehidupan dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 

Akan tetapi, ketahanan sosial mengacu kepada daya dukung kelembagaan sosial, baik pada aspek politik, ekonomi, dan budaya; sehingga reformasi pengelolaan lingkungan hidup harus mengacu kepada upaya penguatan ketahanan dan keberlanjutan ekologi dan sosial ini.

Pada umumnya, di kota-kota besar terjadi pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang amat pesat, sehingga meningkatnya tempat-tempat pemukiman, transportasi, dan perindustrian dalam rangka memenuhi kebutuhan insan itu sendiri baik berupa sarana dan prasarana. 

Selain itu, kemajuan teknologi yang dicapai oleh insan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidupnya memberi dampak yang positif dan negatif . Dampak negatifnya berupa kerugian bagi keseimbangan lingkungan hidup.

Salah satu bentuk dampak negatifnya, yaitu sulitnya untuk memperoleh udara berkualitas baik dan bersih. Pencemaran udara yang terjadi merupakan problem pencemaran lingkungan yang terberat bagi kawasan perkotaan. 

Akibat pencemaran udara sanggup membahayakan kesehatan manusia, kelestarian tumbuhan dan hewan, sanggup merusak bahan-bahan, menurunkan daya penglihatan, serta menghasilkan amis yang tidak menyenangkan.

Pencemaran udara ialah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan insan atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak sanggup berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Oleh lantaran itu, perlu dilakukan usaha-usaha yang mengarah kepada pencegahan atau berkurangnya pencemaran udara. 

Salah satu perjuangan yang sanggup dilakukan untuk mengatasi problem pencemaran udara ialah penghijauan atau pengadaan hutan kota (ruang terbuka hijau); sanggup berbentuk tanaman, jalur hijau, kebun, pekarangan, dan hutan yang sanggup berfungsi sebagai paru-paru kota, dan sanggup menyediakan oksigen yang diharapkan oleh insan dan menurunkan kadar beberapa pencemar udara.

Pengertian udara dan udara tercemar

Udara ialah suatu adonan gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi adonan gas tersebut tidak selalu konstan dan selalu berubah dari waktu ke waktu. 

Komponen yang konsentrasinya paling bervariasi ialah air yang berupa uap air dan karbon dioksida. Jumlah air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu . 

Udara dalam istilah meteorologi disebut dengan atmosfir. Atmosfir merupakan adonan gas3 gas yang tidak bereaksi satu dengan lainnya (innert).

Atmosfir terdiri dari selapis adonan gas-gas, sehingga sering tidak tertangkap oleh indera insan kecuali apabila berbentuk cairan (uap air) dan padatan (awan dan debu). 

Lapisan atmosfir mempunyai ketinggian sekitar 110 km dari permukaan tanah dan penggalan terbesar berada di bawah ketinggian 25 km, lantaran tertahan oleh gaya gravitasi bumi.

Udara mengandung sejumlah oksigen, merupakan komponen esensial bagi kehidupan, baik insan maupun makhluk hidup lainnya. 

Udara yang normal merupakan adonan gas-gas meliputi 78 % N2; 20 % O2; 0,93 % Ar ; 0,03 % CO2 dan sisanya terdiri dari neon (Ne), helium (He), metan (CH4) dan hidrogen (H2). Sebaliknya, apabila terjadi penambahan gas-gas lain yang menimbulkan gangguan serta perubahan komposisi tersebut, maka dikatakan udara sudah tercemar/terpolusi. 

Atmosfir pada keadaan higienis dan kering akan didominasi oleh 4 gas penyusun atmosfir, yaitu 78,09% N2; 20,95% O2; 0,93% Ar; dan 0,032% CO2; sedangkan gas-gas lainnya sangat kecil konsentrasinya. Komposisi udara kering , yaitu semua uap air telah dihilangkan dan relatif konstan.

hewan akan menyerap nitrogen apabila berbentuk persenyawaan. Senyawa nitrogen dalam bentuk amonia dan nitrogendioksida, dalam kadar yang sangat kecil terlarut dalam air hujan. Lebih lanjut, 

Akibat aktifitas perubahan manusia, udara seringkali menurun kualitasnya. Perubahan kualitas ini sanggup berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimiawi. 

Perubahan kimiawi, sanggup berupa pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terkandung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai pencemaran udara. Kualitas udara  yang dipergunakan untuk kehidupan tergantung darilingkungannya. 

Kemungkinan di suatu tempat dijumpai debu yang bertebaran dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan. 

Demikian juga suatu kota yang terpolusi oleh asap kendaraan bermotor atau angkutan yang sanggup menimbulkan gangguan kesehatan.

Udara yang belum terkotori selain mengandung uap air, gas-gas innert juga mengandung aerosol yaitu adonan partikel-partikel padat dan cair yang sangat halus. Aerosol berupa partikel cair atau padat yang tersuspensi di dalam gas. 

Ukuran partikel aerosol antara 0,001 – 100 um. Partikel-partikel yang berdiameter kurang dari 2,5 um pada umumnya dianggap halus dan partikel yang berdiameter lebih besar dari 2,5 um dianggap kasar. 

Pada udara, selain gas juga terdapat aerosol yang terdiri dari partikel debu, abu, garam, dan asap. Jenis aerosol yang secara umum dikuasai di udara yang menimbulkan pencemaran. Pada umumnya, kota-kota besar mempunyai konsentrasi aerosol yang relatif lebih tinggi kalau dibandingkan dengan di lautan. Sumber aerosol ada dua macam, yaitu primer dan sekunder. 

Aerosol primer, yaitu aerosol yang dikeluarkan eksklusif dari banyak sekali sumber (contoh : debu yang terbawa oleh udara sebagai akhir adanya angin atau partikel-partikel asap yang dikeluarkan dari ceroong asap). 

Aerosol sekunder mengikuti pada partikel-partikel yang dihasilkan di dalam atmosfir yang mengalami reaksi-reaksi kimia dari komponenkomponen gas.

Udara tidak akan pernah bersih; beberapa gas ibarat sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfide (H2S), dan karbon monoksida (CO) selalu dibebaskan ke udara lantaran senantiasa ada sumber polusi alami ibarat asap dari letusan gunung berapi, spora dari tanaman, asap dari kebakaran hutan dan sampah, gas-gas yang dihasilkan oleh pembusukan sampah. 

 
sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
Kabut asap

Selain itu, partikel-partikel padatan atau cairan berukuran kecil sanggup tersebar di udara oleh angin, letusan gunung berapi, atau gangguan alam lainnya, ibarat abrasi tanah. Sumber polusi selain alami, yaitu lantaran adanya acara manusia.

Konsentrasi CO2 di udara selalu rendah (sekitar 0,03%), banyak dijumpai di kawasan pegunungan, di atas kebun, ladang tumbuhan yang sedang tumbuh, atau lautan. 

Konsentrasi yang relatif rendah ini disebabkan oleh absorbsi CO2 oleh tumbuhan selama fotosintesis dan lantaran kelarutan CO2 di dalam air. 

Tumbuh-tumbuhan dalam ekosistem berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi surya menjadi energi potensial untuk makhluk hidup lain dan mengubah CO2 menjadi O2, sehingg penghijauan sanggup menangani krisi lingkungan di perkotaan lantaran sanggup berperan mengrangi CO2 dan zat pencemar lainnya. 

Namun, tidak semua pohon tahan terhadap zat pencemar, lantaran zat pencemar sanggup merusak perkembangan daun dan pertumbuhan tanaman. Diduga ketahanan setiap jenis tumbuhan dipengaruhi oleh sifat-sifat genetik antara lain morfologi daun (bentuk dan permukaan daun) dan anatomi daun ( kerapatan dan letak stomata).

Pengertian pencemaran udara ialah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan insan atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak sanggup berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (KEPMEN KLH No. 02/Men-KLH/I/1988).

BAPEDAL (1999), mendefinisikan bahwa pencermaran udara ialah adanya kontaminasi atmosfir oleh gas, cairan atau limbah padat serta produk samping dalam konsentrasi dan waktu sedemikian rupa yang menimbulkan gangguan, kerugian atau mempunyai potensi merugikan terhadap kesehatan dan kehidupan manusia, hewan, tumbuhtumbuhan dan benda serta membuat ketidak nyamanan. 

Selain itu, sanggup membahayakan daya penglihatan dan menghasilkan amis yang tidak menyenangkan. Pengertian lain dari KLH (1987), World Bank (1978), dan Canter (1977) menyatakan bahwa pencemara udara adanya atau masuknya satu atau lebih zat pencemar atau kombinasinya di atmosfir dalam jumlah dan waktu tertentu baik yang masuk ke udara secara alami maupun acara manusia, yang sanggup menimbulkan gangguan pada manusia, hewan, tumbuhan, dan terhadap harta benda atau terganggunya kenyamanan dan kenikmatan hidup dan harta benda. 

Pencemaran udara tidak mengenal secara tegas batas wilayah pengaruhnya, baik di kota maupun di daerah-daerah lainnya. Masalah yang ditimbulkan oleh pencemaran udara bahkan sanggup meliputi ruang lingkup antar negara. Hal ini, disebabkan oleh banyak sekali faktor yang memengaruhi penyebaran, ibarat volume materi pencemar, geografis, topografi, dan klimatologi. 

Akan tetapi, Kastiyowati menyatakan bahwa pencemaran udara ialah kondisi udara yang terkotori dengan adanya bahan, zat-zat absurd atau komponen lain di udara yang menimbulkan berubahnya tatanan udara oleh kegiatan insan atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak sanggup berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. 

Pencemaran udara mensugesti sistem kehidupan makhluk hidup ibarat gangguan kesehatan, ekosistem yang berkaitan dengan manusia.

Jenis-jenis pencemaran udara, yaitu berdasarkan bentuk (gas, partikel ) dan berdasarkan tempat (ruangan /indoor dan udara bebas /outdoor) . Gangguan kesehatan : Iritansia, asfiksia, anetesia, toksis . Menurut asal : primer, sekunder.

sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
Dampak pencemaran udara bagi kesehatan
sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
Dampak pencemaran udara bagi lingkungan
Bahan atau Zat pencemaran udara sanggup berbentuk gas dan partikel : Pencemaran udara berbentuk gas sanggup dibedakan menjadi :

Golongan welirang terdiri dari sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S) dan sulfat aerosol.

Golongan nitrogen terdiri dari nitrogen oksida (N2O), nitrogen monoksida (NO), amoniak (NH3) dan nitrogen dioksida (NO2).

Golongan karbon terdiri dari karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), hidrokarbon .

Golongan gas yang berbahaya terdiri dari benzen, vinyl klorida, air raksa uap.

Pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan menjadi :

  1. Mineral (anorganik) sanggup berupa racun ibarat air raksa dan timah.
  2. Bahan organik terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan, Benzen.
  3. Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.
Pencemaran udara berdasarkan tempat dan sumbernya ada dua macam :

  1. Pencemaran udara bebas (Out door air pollution), sumber pencemaran udara bebas: alamiah, berasal dari letusan gunung berapi, pembusukan, dll. Kegiatan manusia, contohnya berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan, dll.
  2. Pencemaran udara ruangan (In door air pollution), berupa pencemaran udara didalam ruangan yang berasal dari pemukiman, perkantoran ataupun gedung tinggi.
Pencemaran udara sanggup pula dikelompokkan ke dalam :

  1. Pencemar primer. Polutan yang bentuk dan komposisinya sama dengan saat dipancarkan, lazim disebut sebagai pencemar primer, antara lain CO, CO2, hidrokarbon, SO, nitrogen oksida, ozon serta banyak sekali partikel.
  2. Pencemar sekunder. Berbagai materi pencemar kadangkala bereaksi satu sama lain menghasilkan jenis pencemar baru, yang justru lebih membahayakan kehidupan. Reaksi ini sanggup terjadi secara otomatisataupun dengan cara pertolongan katalisator, ibarat sinar matahari. Pencema hasil reaksi disebut sebagai pencemar sekunder. Contoh pencemar sekunder ialah Ozon, formal dehida, dan Peroxy Acyl Nitrate (PAN).

Penyebab pencemaran udara

Sumber pencemaran udara berdasarkan pergerakannya sanggup dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
  1. Sumber pencemaran yang tidak bergerak (industri, pemukiman, dan pembangkit tenaga listrik) yang menghasilkan unsur-unsur polutan ke atmosfir sebagai berikut : kabut asam, oksida nitrogen, CO, partikel-partikel padat, hidrogen sulfida (H2S), metil merkatan (CH3SH), NH3, gas klorin, H2S, flour, timah hitam, gas-gas asam, seng, air raksa, kadmium, arsen, antimon, radio nuklida, dan asap
  2. bergerak (kendaraan bermotor atau transportasi) yang menghasilkan CO, SO2, oksida nitrogen, hidrokarbon, dan partikel-partikel padat.
Menurut Andrews (1972), penyebab pencemaran udara terbagi tiga kelompok, Yaitu:

  1. Gesekan permukaan, ibarat menggergaji, menggali, ukiran (gosokan) dari beberapa materi (aspal, tanah, besi, dan kayu) yang membuang partikel padat ke udara dengan banyak sekali ukuran.
  2. Penguapan yang berasal dari cairan yang gampang menguap, ibarat bensin,minyak cat, dan uap yang dihasilkan oleh industri logam, kimia dan lainnya.
  3. Pembakaran, ibarat pembakaran materi bakar fosil (minyak, solar, bensin, batubara, pembakaran hutan, dsb.). Pembakaran tsb. merupakan proses oksidasi sehingga menghasilkan gas-gas CO2, CO, SOx, NOx, atau senyawa hidrokarbon yang tidak terbakar dengan sempurna. 


sumber pencemar udara terutama SOx dan NOx dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu dari alam, anthropogenik, dan adonan antara keduanya. Proses alam yang banyak menimbulkan peningkatan konsentrasi SOx dan NOx di udara ialah : 

  1. Proses dekomposisi biologis
  2. Kegiatan yang berhubunan dengan vulkanik
  3. Aktivitas geotermal, dan 
  4. Kilat atau petir. 


Sumber pencemar anthropogenik atau akhir acara insan ialah dipakainya secara besar-besaran materi bakar fosil. 


Sumber pencemar adonan antara keduanya ialah pemakaian pupuk dibidang pertanian yang melalui proses biologis akan melepaskan SOx dan NOx ke udara dan pembakaran hutan. (Anonimus) menyatakan bahwa di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. 

Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang sanggup menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan insan maupun terhadap lingkungan, ibarat timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). 

Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspendedparticulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta. 

Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah tangga yang meliputi 41% dari sumber debu di Jakarta. Sektor industri merupakan sumber utama dari sulfur dioksida. Di tempattempat padat di Jakarta, konsentrasi timbal bisa mencapai 100 kali dari ambang batas. 

Sementara itu, laju pertambahan kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 15% per tahun sehingga pada tahun 2005 diperkirakan jumlah kendaraanbermotor di Jakarta mencapai 2,8 juta kendaraan. 

Seiring dengan laju pertambahan kendaraan bermotor, maka konsumsi materi bakar juga akan mengalami peningkatan dan berujung pada bertambahnya jumlah pencemar yang dilepaskan ke udara.

Tahun 1999, konsumsi premium untuk transportasi mencapai 11.515.401 kilo liter [Statistik Perminyakan Indonesia, Laporan Tahunan 1999 DirektoratJenderal Minyak dan Gas  Bumi]. Setiap liter premium yang diproduksi, terkandung timbal (Pb) sebesar 0,45 gram sehingga jumlah Pb yang terlepas ke udara total sebesar 5.181,930 ton. 

Jakarta Urban Development Project, menduga bahwa konsentrasi timbal di Jakarta mencapai 1,7-3,5 mikrogram/meter kubik (ìg/m3) pada tahun 2000. 

Menurut Bapedalda Bandung, konsentrasi hidrokarbon mencapai 4,57 ppm (baku mutu PP 41/1999: 0,24 ppm), NOx mencapai 0,076 ppm (baku mutu: 0,05 ppm), dan debu mencapai 172 mg/m3 (baku mutu: 150 mg/m3).

Tugaswati (1993), melaporkan hasil pemantauan kualitas udara pada lokasi Rawasari menunjukkan bahwa kadar rata-rata TSP, NO2 dan SO2 masing-masing sebesar 148 Hg/m3, 9,28 Hg/m3 dan 1,06 Hg/m3. Pada lokasi Pulogadung didapatkan kadar rata-rata TSP NO2 dan SO2 masing-masing sebesar 168 Hg/m3, 14,7 Hg/m3 dan 0,79 Hg/m3. 

sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
Senyawa beracun

Kadar rata-rata dari parameter NO2 dan SO2 di kedua lokasi pemantauan tidak melampaui batas kadar maksimum yang ditetapkan dalam Kriteria kualitas udara Ambien untuk wilayah DKI Jakarta. 

Kadar rata-rata TSP pada lokasi stasiun Pulogadung dan Rawasari masih memenuhi kriteria. Kadar TSP tahun 1992 ini cenderung menurun jikadibandingkan dengan tahun 1991, sedangkan untuk parameter NO2 dan SO2 mengalami peningkatan yang berarti. Ini menunjukkan bahwa pencemaran gas sudah harus mulai mendapat perhatian khusus. 

Sumber pencemaran udara di DKI Jakarta umumnya disebabkan oleh jenis kegiatan ibarat industri pengolahan, transportasi, dan kegiatan keseharian rumah tangga. 

Di wilayah DKI Jakarta terdapat banyak sekali jenis industri yang berpotensi mencemari udara, antara lain industri makanan, industri minuman, industri kayu dan olahan kayu, industri kimia dasar, industri mineral nonlogam, industri logam  dasar, dan industri tekstil. Akan tetapi, sumber pencemaran udara yang cukup penting ialah yang berasal dari kemudian lintas kendaraan bermotor. 

Pencemaran udara yang paling tinggi terdapat di ruas-ruas jalan yang paling padat kemudian lintasnya dan rawan kemacetan.

Dampak pencemaran udara

Dampak terhadap kesehatan yang disebabkan oleh pencemaran udara akan terakumulasi dari hari ke hari. Pemaparan dalam jangka waktu usang akan berakibat pada banyak sekali gangguan kesehatan, ibarat bronchitis, emphysema, dan kanker paru-paru. 

Dampak kesehatan yang diakibatkan oleh pencemaran udara berbeda-beda antarindividu. Populasi yang paling rentan ialah kelompok individu berusia lanjut dan balita. 

Menurut penelitian di Amerika Serikat, kelompok balita mempunyai kerentanan enam kali lebih besar kalau dibandingkan dengan orang dewasa. 

Kelompok balita lebih rentan lantaran mereka lebih aktif dan dengan demikian menghirup udara lebih banyak, sehingga mereka lebih banyak menghirup zat-zat pencemar. 

Dampak dari timbal sendiri sangat mengerikan bagi manusia, utamanya bagi anak-anak. Di antaranya ialah mensugesti fungsi kognitif, kemampuan belajar, memendekkan tinggi badan, penurunan fungsi pendengaran, mensugesti sikap dan intelejensia, merusak fungsi organ tubuh, ibarat ginjal, sistem syaraf, dan reproduksi, meningkatkan tekanan darah dan mensugesti perkembangan otak. 

Dapat pula menimbulkan anemia dan bagi perempuan hamil yang terpajan timbal akan mengenai anak yang disusuinya dan terakumulasi dalam ASI. 

Diperkirakan nilai sosial setiap tahun yang harus ditanggung akhir pencemaran timbal ini sebesar 106 juta dollar USA atau sekitar 850 miliar rupiah. Pencemaran akhir asap yang sudah mencapai ancaman ditandai dengan adanya peningkatan kadar debu di udara, yang disebut dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). 

Peristiwa kebakaran hutan di Jambi yang terjadi mulai bulan Agustus –September 2004 menimbulkan adanya peningkatan penderita benjol kanal pernafasan atas (ISPA) sebanyak 72,34 % (5.203 menjadi 8.967 orang) pada September 2004 kalau dibandingkan dengan Juli 2004. Penyakit ini, banyak menyerang pada bawah umur usia di bawah lima tahun (balita). 

Penderita ISPA diperkirakan akan meningkat, lantaran kebakaran tetap berlangsung. Penyebab ISPA disebabkan oleh ISPU Jambi telah mencapai ambang ancaman sekitar 300 – 500 mm.

Suara Pembangunan (2004b), memberitakan juga wacana bawah umur sekolah menjadi terganggu baik pada pernafasan maupuin pada mata dengan adanya pencemaran udara (yang berupa asap yang tebal) ; sehingga pemerintah menginstruksikan dengan meliburkan sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak hingga dengan SMU. 

Hal ini suatu kerugian yang besar bagi masyarakat kawasan tsb. Karena terjadi penghambatan pencerdasan masyarakat secara perlahan-lahan. Apabila suatu kawasan sering melaksanakan peliburan berlangsungnya suatu pendidikan, maka usang kelamaan kawasan tsb akan mengalami keterbelakangan dalam suatu ilmu kalau dibandingkan dengan kawasan lain yang lebih kondusif udaranya. 

bukan janin dalam kandungan saja yang ikut terancam kehilangan kualitas kecerdasan, tapi juga bawah umur dalam masa tumbuh kembang. Timbel alias timah hitam ikut mencemari sayur dan buah-buahan yang dikonsumsi anak-anak. 

Beberapa tahun yang kemudian United Nations Environmental Programme (UNEP) telah menempatkan Jakarta sebagai kota terpolusi nomor tiga di dunia sehabis Meksiko dan Bangkok. Bisa dibayangkan betapa parahnya ancaman polutan emisi gas buang di metropolitan ini. Padahal tanpa harus berhadapan dengan fakta tersebut, anak Indonesia sudah tergolong lemah dan mempunyai angka maut tinggi.

Hal lain yang patut dicermati ialah polusi udara akhir asap rokok. Ibu hamil yang menghisap rokok bisa berakibat fatal terhadap janin yang dikandungnya. Pembuluh darah sang ibu akan mengecil sehingga suplai darah ke calon bayi terhalang. 

Akan banyak dampak yang diderita oleh bayi, yaitu pertumbuhan tubuh terhambat dan juga kemampuan mental menjadi terlambat. Gizi memang masih menjadi faktor utama bagi perkembangan otak, tetapi juga jangan meremehkan faktor lain ibarat polusi udara. 
Dan yang lebih memprihatinkan, kendati polusi udara di Indonesia tergolong tinggi, tidak ada satu pun jago kesehatan udara yang tersedia. Bahkan bidang studinya pun belum tersedia di semua perguruan tinggi tinggi. 

Pada negara maju kehadiran seorang dokter jago kesehatan udara sangat diharapkan dalam pembangunan proyek-proyek gedung di kota besar.

dampak/pengaruh pencemaran udara bisa mensugesti terhadap makhluk hidup baik secara eksklusif maupun tidak langsung. 

Efek SO2 terhadap vegetasi sanggup menimbulka pemucatan pada penggalan antara tulang atau tepi daun. Emisi oleh fluor (F), sulfur dioksida (SO2) dan ozon (O3) menimbulkan gangguan proses asimilasi pada tumbuhan. 

sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akhir eksploitasi yang berlebihan  Pencemaran Udara dan Permasalahanya
hal-hal yang menipiskan lapisan ozon

Pada tumbuhan sayuran yang terkena/mengandung pencemar Pb mempunyai potensi ancaman terhadap kesehatan masyarakat apabila tumbuhan sayuran tersebut dikonsumsi oleh manusia.

Pencemaran udara berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan dibedakan menjadi 3 jenis :

Irintasia. Biasanya polutan ini bersifat korosif, merangsang proses peradangan hanya pada kanal pernapasan penggalan atas, yaitu kanal pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokkan. Misalnya sulfur dioksida, sulfur trioksida, amoniak, dan debu. Iritasi terjadi pada kanal pernapasan penggalan atas dan juga sanggup mengenai paru-paru itu sendiri.

Asfiksia. Hal ini terjadi lantaran berkurangnya kemampuan tubuh dalam menangkap oksigen atau menimbulkan kadar O2 menjadi berkurang. Keracunan gas karbon monoksida menimbulkan CO akan mengikat hemoglobin, sehingga kemampuan hemoglobin mengikat O2 berkurang dan terjadilah asfiksia. Penyebabnya ialah gas nitrogen, oksida, metan, gas hidrogen dan helium.

Anestesia. Bersifat menekan susunan syaraf pusat sehingga kehilangan kesadaran, contohnya aeter, aetilene, propan,e dan alkohol alifatis.

Toksis. Titik tangkap terjadinya banyak sekali jenis, yaitu : menimbulkan gangguan pada sistem  pembuatan darah, contohnya benzene, fenol, toluen dan xylene. Keracunan terhadap susunan syaraf, contohnya karbon disulfid, metil alkohol.

Penanggulangan pencemaran udara

Penanggulangan pencemaran udara tidak sanggup dilakukan tanpa menanggulangi penyebabnya. 

Mempertimbangkan sektor transportasi sebagai kontributor utama pencemaran udara, maka sektor ini harus mendapat perhatian utama. dengan saran berikut ini:
  1. WALHI menyerukan kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi dengan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau oleh publik. Prioritas utama harus diberikan pada sistem transportasi massal dan tidak berbasis kendaraan pribadi.
  2. WALHI juga menyerukan kepada pemerintah untuk segera memenuhi komitmennya untuk memberlakukan pemakaian bensin tanpa timbal.Di sektor industri, penegakan aturan harus dilaksanakan bagi industri pencemar.
  3. penanggulangan pencemaran udara sanggup dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan. 
  4. Sumber dari pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap dapur, materi baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh ruangan. 
  5. Pencegahan pencemaran udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan : Ventilasi yang sesuai, yaitu usahakan polutan yang masuk ruangan seminimum mungkin. Tempatkan alat pengeluaran udara akrab dengan sumber pencemaran. 
  6. Usahakan menggantikan udara yang keluar dari ruangan sehingga udara yang masuk keruangan sesuai dengan kebutuhan.Filtrasi, dengan cara memasang filter yang dipergunakan dalam ruangan untuk menangkap polutan dari sumbernya dan polutan dari udara luar ruangan. Pembersihan udara secara elektronik. 
  7. Udara yang mengandung polutan dilewatkan melalui alat ini sehingga udara dalam ruangan sudah berkurang polutan-nya atau disebut bebas polutan.

Hasil pemantauan terhadap kualitas udara dari tahun 1995 – 2001 di wilayah pemukiman di DKI Jakarta menunjukkan hasil bahwa konsentrasi zat-zat yang menimbulkan polusi (NOx, SO2, TSP, dan Pb) berfluktuasi setiap tahun dan bervariasi di tiap-tiap lokasi pemantauan. 

Konsentrasi NOx menunjukkan kecenderungan meningkat. Peningkatan yang paling tinggi terdapat di lokasi pemantauan Tebet-Jakarta Selatan, sedangkan yang terendah di lokasi pemantauan Jl. Kahfi-Jakarta Selatan. Konsentrasi SO2 di Tebet-Jakarta Selatan juga cenderung meningkat sementara di Jl. Kahfi-Jakarta Selatan cenderung menurun. 

Sementara itu konsentrasi Pb menunjukkan kecenderungan meningkat di titik pemantauan Tebet dan Mesjid Al Firdaus Jakarta Selatan, namun menunjukkan kecenderungan menurun di tiga titik pemantauan lainnya (Pondok Gede-Jakarta Timur, Jl. Kahfi-Jakarta Selatan, dan Rawa Buaya-Jakarta Barat). 

Hasil ini menunjukkan bahwa wilayah pemantauan Tebet- Jakarta Selatan merupakan wilayah yang harus diwaspadai lantaran konsentrasi pencemaran udaranya sangat tinggi, sehingga perlu dilakukan upaya yang lebih konkrit untuk meningkatkan kualitas udara di wilayah tersebut. 

Konsentrasi SO2 dan NO2 yang teramati di Jakarta dan Stasiun GAW Bukit Kototabang menunjukkan perbedaan yang relatif cukup besar. Rata-rata konsentrasi SO2 selama lima tahun terakhir ( 1995-1999) di Jakarta ialah 8.5 ppbv sedangkan di Stasiun GAW sebesar 3.7 ppbv. 

Besarnya kandungan unsur SO2 di udara Jakarta menunjukkan bahwa udara di wilayah Jakarta telah terpolusi. Walaupun nilai konsentrasi SO2 di Jakarta berada pada level di bawah nilai ambang batas yang berlaku, kondisi ini perlu mendapat perhatian mengingat adanya kecenderungan peningkatan konsentrasi SO2 di Jakarta. 

Rata-rata konsentrasi NO2 di Jakarta di Jakarta sebesar 45 ppbv, sedangkan di Stasiun GAW Bukit Kototabang ialah 6.4 ppbv. Peramatan SO2 dan NO2 dilakukan dengan mempergunakan alat yang dinamakan Passive Gas Sampler. Di Stasiun GAW alat ini mulai dipasang pada bulan Nopember 1995 dengan periode peramatan dilakukan mingguan. 

Nilai Ambang Batas untuk SO2 ialah 0.01 ppm dan Nilai Ambang Batas untuk NO2 ialah 0.05 ppm.

Ozon di lapisan troposfer merupakan salah satu gas rumah beling yang potensial berubah lantaran kegiatan manusia. 

Ozon dihasilkan melalui reaksi radiasi matahari pada gas-gas ibarat nitrogen oksida (NO2) dan gas hidro karbon. Semenjak kegiatan insan yang menghasilkan gas rumah beling meningkat, maka pengukuran ozon permukaan ini sangat penting untuk dilakukan semoga sanggup diketahui tingkat konsentrasi unsur di atmosfer. 

Pengukuran ozon permukaan dilakukan dengan mempergunakan alat yang dinamakan Ozone Analyzer. Di Stasiun GAW Bukit Kototabang pengukuran ozon ini dimulai semenjak September 1996 dengan mempergunakan alat buatan Tenco Inst. Nilai ambang batas untuk lapisan ozon permukaan ialah 100 ppb (0.1 ppm).

Referensi

Andrews, W.A. 1972. Environmental Pollution. Prentice Hall, Inc., New Jersey

BAPEDAL. 1999. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Catatan Kursus pengelolaan Kualitas Udara. Jakarta

Barry, R.G. 1969. Precipitation. In Richard, J.G. (Ed.). Introduction to Physical Hydrology. Methuen and Co. Ltd., Bungay Sufflok

Komentar dinonaktifkan: Pencemaran Udara Dan Permasalahanya

Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini

a Artikel Terkait Pencemaran Udara Dan Permasalahanya

Tips Jitu Mengetahui Umur Parkit Dari Fisiknya

Tips Jitu Mengetahui Umur Parkit Dari Fisiknya

T 4 June 2009 F A admin

Beternak burung parkit penuh proses usaha dan sering kali percobaan hingga sanggup benar-benar mengerti cara ternak parkit yang benar. Proses yang dimulai semenjak pemilihan indukan burung parkit yang bagus untuk mendapat bayi parkit yang bagus juga. Karena tidak semua parkit ... Selengkapnya

Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

T 23 June 2009 F A admin

Proses fisiologis A. rantai asam amino protein polipeptida. Protein ini lebih dari 1000 individu telah dicirikan dalam serum. Kebanyakan protein yang murni tidak biokimia. protein dikombinasikan dengan materi lainnya. Sebagai contoh, lipoprotein dan polisakarida (gula) B. plasma yang mengandung fibrinogen... Selengkapnya

Pengalaman Menjinakkan Kutilang Yang Masih Giras

Pengalaman Menjinakkan Kutilang Yang Masih Giras

T 21 April 2009 F A admin

Burung Kutilang termasuk burung yang layak dijadikan klangenan dirumah, walaupun orang pada umumnya memandang rendah burung kutilang, yang burung kemproh (jorok), burung rakus, burung kicauan perusak dll. Padahal burung kutilang yang sudah jadi, sanggup menyanyikan aneka macam isian bunyi burung... Selengkapnya

+ SIDEBAR