Beranda » Uncategorized » Bahayanya Mikoorganisme Patogen Pada Masakan Dan Sumber Pencemarannya

Bahayanya Mikoorganisme Patogen Pada Masakan Dan Sumber Pencemarannya

T Diposting oleh pada 26 June 2009
F Kategori
b Comments Off on Bahayanya Mikoorganisme Patogen Pada Masakan Dan Sumber Pencemarannya
@ Dilihat 2 kali

Mikoorganisme Patogen Penyebab Penyakit Pada Makanan

a. Bakteri

Berdasarkan pembagian terstruktur mengenai diatas, ada dua intoksikasi pangan utama yang disebabkan bakteri, yaitu (1) botulisme, disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum dan (2) intoksikasi stapilokoki, disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus. 

Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh intoksikasi terlihat sesudah 3-12 jan sesudah memakan materi kuliner tersebut dan ditandai oleh muntah-muntah ringan dan diare.

Mikoorganisme Patogen Penyebab Penyakit Pada Makanan Bahayanya Mikoorganisme Patogen pada Makanan dan Sumber Pencemarannya
kuman dan benalu penyebab penyakit


Indeks pangan sanggup digolongkan ke dalam dua kelompok: 

  1. infeksi dimana kuliner tidak menunjang pertumbuhan patogen tersebut, misalnya, pathogen penyebab tuberkolosis (Mycobacterium bovis dan M. tubercolosis), brucellosis (Brucela aortus, b.melitensis), diprteri (Corynebacterium diptheriae), disentri oleh Campylobacter, demam tifus,kolera, hepatitis, dan lain-lain; dan 
  2. infeksi dimana kuliner berfungsi sebagai medium kultur untuk pertumbuhan patogen hingga mencapai jumah yang memadai untuk menjadikan bisul bagi pengkomsumsi kuliner tersebut; bisul ini meliputi Salmonela spp, Listeria, vibrio parahaemolyticus, dan Escherichia coli enteropatogenik. Penularan bisul jenis kedua ini lebih mewabah dari pada jenis-jenis gangguan perut yang lain. Gejala-gejala yang disebabkan bisul mulai terlihat sesudah setelah 12-24 jam dan ditandai dengan sakit perut cuilan bawah (abdominal pains), pusing, diare, muntah-muntah, demam dan sakit kepala.

b. Non-Bakteri

Kapang

Selain oleh bakteri, kapang juga sanggup menjadikan penyakit  yang dibedakan atas dua golongan, yaitu (1) bisul oleh fungi yang disebut mikosis dan (2) keracunan yang disebabkan oleh tertelannya metabolik beracun dari fungi atau mikotoksikosis. 

Mikotoksikosis biasanya tersebar melalui makanan, sedangkan mikosis tidak melalui kuliner tetapi melalui kulit atau lapisan epidermis,rambut dan kuku akhir sentuhan, pakaian, atau terbawa angin. Senyawa beracun yang dihasilkan fungi disebut mikotoksin. 

Toksin ini sanggup menjadikan tanda-tanda skit yang kadang kala fatal. Beberapa diantaranya bersifat karsinogen. Beberapa mikotoksin bersifat halusinogenik, contohnya asam lisergat.

Virus

Virus yaitu mikroorganisme ultramikroskopik dan sanggup lolos filter 0,22 µm. Virus berkembang biak hanya pada inang yang sesuai dan tidak sanggup tumbuh diluar inang. 

Beberapa virus sanggup mengakibatkan ganggun pencernaan dan ciri-cirinya hampir sama dengan yang ditimbulkan oleh bakteri. Sebagian virus juga sanggup menginfeksi tanpa adanya simpton hingga virus tersebut menyerang jaringan sel yang lain, contohnya jaringan saraf, melalui pedoman darah.

Transmisi virus yang sanggup mengakibatkan gangguan pencernaan ini sanggup melalui aerosol atau kontak eksklusif degan orang yang terinfeksi. 

Enterovirus diketahui menyebar melalui rute fekal-oral, sedangkan virus polio (dapat mengakibatkan gangguan pencernaan, demam dan kelumpuhan) menyebar melalui rute fekal-oral, sedangkan virus hepatitis B tersebar melalui kontak eksklusif dan transfusi darah. Rotavirus juga merupakan virus yang penting dan secara sporadis dapatmenyebabkan diare akut, demam dan seing kali muntah-muntah. Virus ini telahdilaporkan sanggup menyebar melalui air.

Rickettsiae

Rickettsiae yaitu basil yang berukuran kecil dan tidak pernah berhasil dikultivasi pada medium sintetik. Rickettsia berbeda dengan virus lantaran mikroorganisme ini memiliki DNA dan RNA memiliki beberapa struktur yang dimiliki bakteri. 

Coxiella burnetii, penyebab demam Q, ditimbulkan oleh mikroorganisme ini yaitu sakit kepala dan demam. Penularannya melalui susu dari sapi yang terinfeksi. C. burnetii telah dilaporkan relatif tahan panas dan sanggup membentuk spora, sehingga kemungkinan bisa terdapat pada susu pasteurisasi jikalau susu tersebut berasal dari sapi yang terinfeksi.

Prion

Prion mengakibatkan penyakit degeneratif pada sistem syaraf pusat pada binatang dan manusia. Penyakit scrapie pada kambing merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh prion. Penyakit yang sama juga telah ditemukan pada sapi, bovine spongiform encephalopathy (BSE). 

Prion tersebar melalui pakan dan penularan terhadap insan sekarang mendapat perhatian yang serius. 

Prion sangat resisten terhadap panas, lebih tahan daripada spora basil dan merupakan bentuk protein yang abnormal dari inang. Pencegahan penularan melalui pencegahan sumbangan pakan dari bahan-bahan yang terinfeksi dan pencegahan komsumsi daging dan bagian-bagian binatang yang terinfeksi.

Protozoa dan parasit

Giardia, Cryptosporidium, Balantidium, Entamoeba dan protozoa lainnya serta benalu ibarat cacing pita, sanggup menginfeksi melali air dan makanan. Beberapa spesies sanggup bertahan pada lingkungan yang extrim untuk beberapa ahad dan sanggup klorinasi. 

Gejala-gejala yang sanggup ditimbulkan sama dengan tanda-tanda gangguan yang ditimbulkan oleh basil dan penularannya melalui rute fekal-oral.

Makanan Yang Terserang Mikroorganisme Patogen


a. Daging


Bahan pangan yang berasal dari binatang merupakan sumber utama basil penyebab bisul dan intoksikasi. Mikroorganisme yang terdapat pada binatang hidup sanggup terbawa ke dalam daging segar dan mungkin bertahan selama proses pengolahan. 

Banyak hewan-hewan yang disembelih membawa mikroorganisme ibarat Salmonella dan Campylobacter, selain mikrooranisme yang secara alami terdapat pada susukan pencernaan ibarat Clostridium perfringens, Escherichia coli, Yersinia entercolitica dan Listeria monocytogenes. Proses pemotongan unggas secara kontinyu, meningkatkan penularan mikroorganisme dari karkas yang satu ke yang lainnya. 

Demikian juga penggilingan daging dalam pembuatan daging cincang sanggup membuatkan mikroorganisme, sehingga dagin cincang merupakan produk daging yang beresiko tinggi.

b. Telur

Kulit telur kemungkinan mengandung Salmonella yang berasal dari kotoran ayam dan mungkin mengkontaminasi isi telur pada waktu telur dipecahkan. 

Di negara-negara Eropa terjadi peningkatan gangguan pencernaan lantaran bisul oleh S. enteritidis yang berasal dari telur yang telah terinfeksi. Inggris menawarkan peringatan terhadap penggunaan telur mentah pada kuliner yang tidak mengalami pengolahan lebih lanjut.

c. Produk-produk Susu

Susu yang telah mengalami pengolahan yang benar, contohnya pasteurisasi dan sterilisasi, merupakan produk yang aman. Akan tetapi susu segar yang diperoleh dari binatang sehat bisa tercemar dari binatang yang menyusui atau dari peralatan dan lingkungan pemerahan susu. 

Di Inggris telah dilaporkan keracunan kuliner (Salmonellosis) lantaran mengkonsumsi susu sapi segar. Gangguan pencernaan juga kadang kala terjadi akrena prises pemanasan susu tidak cukup. 

Produk-produk susu yang disiapkan dari susu yang tidak mengalami proses pemanasan merupakan produk yang potensial mengandung Staphylococus auerus, Bacillus cereus, Yersenia enterocolitia monocytogenes. 

Pengasaman susu dan fermentasi susu sanggup menghilangkan atau menghambat mikroorganisme patogen enterik, tetapi beberapa mikroorganisme masih bisa tahan. Walaupun susu telah mengalami pemanasan, kontaminasi sanggup terjadi selama penanganan produk atau lantaran penambahan ingridien yang tidak mengalami perlakuan dekontaminasi. 

Adanya L. monocytogenes pada keju yang dimatangkan diduga lantaran rekontaminasi selama proses pembuatan dan penanganan keju.

d. Ikan dan Kerang-kerangan

Ikan dan kerang-kerangan sanggup tercemar dari lingkungan hidup ikan tersebut atau dari lingkungan pengolahan. Jika ikan tersebut diperoleh dari maritim yang telah terkena polusi limbah, ikan tersebut kemungkinan tercemar basil patogen. 

Vibrio parahaemolyticus yaitu kontaminan yang umum terdapat pada ikan dan kuliner maritim lainnya terutama dari perairan Asia Timur. Bakteri ini sanggup dihilangkan dengan pemanasan, akan tetapi sanitasi yang kuramg baik sanggup mengakibatkan terjadinya rekontaminasi. 

Dalam kerang-kerangan telah ditemukan mikroorganisme patogen ibarat Salmonella, E. coli, V. parahemolyticus, clostridia dan virus. Bakteri sanggup dihilanhkan dengan cara ini kurang efektif untuk virus.

e. Buah-buahan, Sayur-sayuran dan Serealia

Dalam keadaan segar, materi pangan nabati kemungkinan tercemar oleh mikroorganisme dari tanah dimana tumbuhan tersebut tumbuh. 

Buah-buahan lantaran jauh daru tanah, kemungkinan untuk tercemar lebih kecil dibandingkan dengan sayuran atau materi pangan yang lain yang kontak eksklusif dengan tanah. Kebersihan susukan juga kuat terhadap kualitas mikrobiologi pangan materi pangan nabati. 

Penggunaan air dari irigasi yang tercemardan penggunaan pupuk sangkar atau kotoran insan sebagai pupuk beresiko terhadap kontaminasi oleh salmonella (termasuk S. typhi), Shigella dan V. cholerae serta virus. Pencucian dan pembilasan dengan air yang mengandung semua basil kecuali sporanya.

f. Makanan kering

Bakteri yang lebih banyak didominasi mengkontaminasi kuliner kering yaitu kelompok Clostridium dan Bacillus. Spora kedua basil ini sanggup bertahan pada proses pengeringan. Penggunaan suhu pengeringan yang tidak bekterisidal, memungkinkan basil ibarat salmonella dan E. coli tetap ada sesudah pengeringan.

Makanan-makanan yang demikian kondusif dalam keadaan kering, akan tetapi jikalau direhidrasi maka harus diperlakukan ibarat halnya kuliner segar. Karena herbs dan rempahrempah seringkali tercemar spora dalam jumlah banyak, maka penambahan ingredian harus dilakukan sebelum proses pemanasan.

g. Makanan siap santap

Makanan siap santap biasanya dijual dalam bentuk beku atau didinginkan. Makanan beku, selama masih beku sanggup dinyatakan .aman. akan tetapi untuk kuliner yang didunginkan haru sdiperhatikan umur simpannya. 

Mikroorganisme yang ditemikan pada kuliner siap santap yaitu mikroorganisme yang tahan proses pemanasan, Misalnya Clostridium dan Bacillus (Sporanya) dan mikroorganisme yang mengkontaminasi selama penaganan contohnya Y. Enterocolitica Dan I. Monocytogenes. Kedua basil ini sanggup tumbuh pada suhu rendah (Refrigertor). 

Dengan demikian dalam memproduksi kuliner siap santap yang disimpan hambar harus diperhatikan sanitasi dan hingga selama pengolahan, kontrol suhu selama penyimpanan dan umur simpan produk.

Sumber Infeksi dan Pencegahannya

Beberapa kuliner bisa dinyatakan kondusif untuk dikonsumsi, jikalau makanan-makanan tersebut diproses dengan proses dekontaminasi yang terkontrol dengan baik ibarat pasteurisasi dan sterilisasi, ibarat susu sterilisasi atau pasteurisasi, es krim dan makanan-makanan kaleng. 

Proses dekontaminasi air kemasan dilakukan dengan klorinasi dan filtrasi. Makanan lain ibarat roti, tepung, madu, manisan buah termasuk kuliner yang dinyatakan aman, lantaran kompisisi dan proses pengolahan kuliner tersebut mengakibatkan kondisi yang tidak mendukung pertumbuhan mikroorganisme. 

Beberapa sifat kuliner dan materi pangan, seperti; kadar air rendah (aw<0.86) atau kadar gula atau kadar garam yang tinggi dan pH kurang dari 4,5. Sifat-sifat ini biasa dipakai dalam pengawetan kuliner yang mana remaja ini masyarakat sudah mulai dianjurkan untuk mengkonsumsi kuliner atau materi pangan segar dari pada kuliner atau materi pangan yang sudah diawetkan. 

Hal ini memberi kesempatan mikroorganisme untuk mengkontaminasi gangguan susukan pencernaan jikalau materi pangan segar tersebut tidak ditangani dengan baik. Terdapat tiga jalur yang sanggup dipakai oleh mikroorganisme untuk mengkontaminasi makanan, yaitu materi baku dan ingredien, pekerja pada pengolahan kuliner dan lingkungan pengolahan.

Identifikasi Kerusakan Pakan

Kerusakan materi pangan sanggup dibedakan atas beberapa jenis yaitu:

  1. Kerusakan fisik lantaran benturan, Sayatan, dan lain-lain.
  2. Kerusakan kimia lantaran terjadinya reaksi kimia, baik enzimaris maupun non enzimatis, ibarat ketengikan, pencoklatan , dan lain-lain.
  3. Kerusakan biologis yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
  4. Mikroorganisme perusak kuliner (kapang, kamir dan bakteri).
  5. Serangga perusak pangan.

Adapun tanda-tanda dari kerusakan aneka macam materi pakan akhir dari terinfeksinya materi pakan dari mikroorganisme pathogen diantaranya yaitu :

  1. Perubahan kekenyalan pada produk-produk daging dan ikan, disebabkan pemecahan struktur daging oleh aneka macam bakteri.
  2. Pelunakan tekstur pada sayur-sayuran, terutama disebabkan oleh Erwina carotovora, Pseudomonas marginalis, dan Sclerotinia sclerotiorum.
  3. Perubahan kekentalan pada susu, santan, dan lain-lain, disebabkan oleh penggumpalan protein dan pemisahan serum (skim).
  4. Pembentukan lendir pada produk-produk daging,ikan, dan sayuran, yang antara lain disebabkan oleh pertumbuhan aneka macam mikroba ibarat kamir, basil asam laktat (terutama oleh Lactobacillus, contohnya L. Viredences yng membentuk lendir berwarna hijau), Enterococcus, dan Bacillus thermosphacta. Pada sayuran pembentukan lendir sering disebabkan oleh P. marjinalis dan Rhizoctonia sp.
  5. Pembentukan asam, umumnya disebabkan oleh aneka macam basil ibarat Lactobacillus, Acinebacter, Bacillus, Pseudomonas, proteus, Microrocci, Clostidium, dan enterokoki.
  6. Pembentukan warna hijau pada produk-produk daging
  7. Pembentukan hidrogen peroksida (H2O2) oleh L. Viridescens, L. fructovorans, L.jensenii, Leuconostoc, Enterococcus faecium dan E.faecalis
  8. Pembentukan hidrogen sulfida (H2S) oleh Pseudomonas mephita, Shewanell putrefaciens, dan Lactobacillus sake.
  9. Pembentukan warna kuning pada produk-produk daging, disebabkan oleh Enterococcus cassliflavus dan E. mundtii.
  10. Pembentukan warna hitam pada sayuran, contohnya oleh Xanthomonas camprestis, Aspergillus niger, dan Ceratocystis frimbiata.
  11. Perubahan warna pada biji-bijian dan serealia lantaran pertumbuhan aneka macam kapang, contohnya Penicillum sp. (biru-hijau), Aspergillus sp. (hijau), Rhizopus sp. (hitam), dan lain-lain.
  12. Perubahan bau, misalnya: Timbulnya bau busuk oleh aneka macam basil lantaran terbentuknya amonia, H2S, Indol,dan senyawa-senyawa amin ibarat diamin kadaverin dan putresin.
  13. Timbulnya bau bacin pada produk-produk ikan lantaran terbentuknya trimetilamin (TMA) dan histamin.

Tanda-tanda kerusakan tersebut diatas sanggup memperlihatkan asumsi secara bergairah jumlah mikroba yang terdapat di dalam materi pangan.

Tanda-Tanda Kerusakan pada Daging dan Produk Daging

Kebusukan akan kerusakan daging ditandai oleh terbentuknya senyawasenyawa berbau busuk ibarat amonia, H2S, indol, dan amin, yang merupakan hasil pemecahan protein oleh mikroorganisme. 

Daging yang rusak memperlihatkan perubahan organoleptik, yaitu bau, warna, kekenyalan, penampakan, dan rasa. Diantara produk-produk metabolisme dari daging yang busuk, kadaverin dan putresin merupakan dua senyawa diamin yang dipakai sebagai indicator kebusukan daging.

Peningkatan konsentrasi kadaverin dan putresin umumnya terjadi secara konkret jikalau jumlah total mikroba mencapai 4x 107 koloni/g. Perubahan bau menyimpang (offodor) pada daging biasanya terjadi jikalau total basil pada permukaan daging mencapai 107,0-7,5 koloni/cm2, di ikuti dengan pembentukan lendir pada permukaan jikalau jumlah basil mencapai 107,5-8,0 koloni/cm2. 

Putresin merupakan senyawa diamin yang diproduksi oleh pseudomonad, sedangkan kadaverin terutama doproduksi oleh Enterobacteaceae.

Tanda-Tanda Kerusakan pada Ikan dan Produk Ikan

Kerusakan pada ikan ditandai dengan terbentuknya trimetilamin (TMA) dari reduksi trimetilamin oksida (TMAO), sebagai berikut: H3C Trimetilamin-N-oksida N-CH3 H3C Trimetilamin TMAO merupakan komponen yang normal terdapat di dalam ikan laut, sedangkan pada ikan yang masih segar TMA hanya ditemukan dalam jumlah sangat rendah atau tidak ada. 

Produksi TMA mungkin dilakukan oleh mikroorganisme, tetapi daging ikan juga mengandung enzim yang sanggup mereduksi TMAO. Tidak semua basil memiliki kemampuan yang sama dalam meruduksi TMAO menjadi TMA, dan reduksi tergantung dari pH ikan.

Histamin, diamin, dan senyawa volatil (total volatile substances) juga dipakai sebagai indikator kebusukan ikan. Histamin diproduksi dari asam amino histidan oleh enzim histidin dekarboksilase yang diproduksi oleh mikroorganismeaa: dekarbokdsilase 

Histidin Histamin Histamin merupakan penyebab keracunan scromboid. Seperti halnya pada daging, kadaverin dan putresin merupakan diamin yang juga dipakai sebagai indikator kebisukan ikan. Senyawa voatil yang dipakai sebagai indikator kebusukan ikan termasuk TVB (total votatile bases), TVA (total volatile acids) TVS (total volateli substance), dan TVN (total volatile nitrogen). 

Yang termasuk TVB yaitu amonia, dimetilamin, dan trimetilamin, sedangkan TVN terdiri dari TVB dan senyawa nitrogen lainnya yang dihasilkan dari destilasi uap terhadap contoh, dan TVS atau VRS (volatile reducing substance) yaitu senyawa hasil aerasi dari produk dan sanggup mereduksi larutan alkalin permanganat. 

Yang termasuk TVA yaitu asam asetat, propionat dan asamasam organik lainnya. Batas TVN maxsimum untuk udang yang bermutu baik di Jepang dan Australia yaitu 30 mg TVN/100g dengan maksimum 5 mg trimatilamin nitrogen/100g. Untuk produk-produk maritim ibarat oister, clamdan scallop, perubahan pH merupakan indikator kerusakan, yaitu pH 5,9-6,2 untuk produk yang masih baik, pH 5,8 sudah agak menyimpang, dan pH 5,2 atau kurang merupakan tanda kebusukan atau asam.

Tanda-Tanda Kerusakan pada Makanan Kaleng

Kerusakan kuliner kaleng dipengaruhi oleh jenis kuliner yang terdapat didalamnya dan mikroba perusak yang dialamnya. Pada dasarnya kuliner kaleng dibedakan atas tiaga kelompok menurut keasaman, yaitu:

  1. Makanan kaleng berasam rendah (pH>4,6), contohnya produk-produk daging dan ikan,suws, beberapa sayuran (jagung, buncis), dan kuliner yang terdiri dari gabungan daging dan sayuran (lodeh, gudeg, opor, dan lain-lain).
  2. Makanan kaleng asam (pH 3,7-4,6), contohnya produk-produk tomat, pear, dan produk-produk lain.
  3. Makanan kaleng berasam tinggi (pH<3,7), contohnya buah-buahan dan sayuran kaleng ibarat jeruk, pikel, sauerkraut, dan lain-lain.
Mikoorganisme Patogen Penyebab Penyakit Pada Makanan Bahayanya Mikoorganisme Patogen pada Makanan dan Sumber Pencemarannya
Pemeriksaan produk pangan
Kerusakan materi pangan sanggup dideteksi dengan aneka macam cara, yaitu:

  1. Uji organoleptik dengan melihat tanda-tanda kerusakan ibarat perubahan tekstur atau kekenyalan, keketanlan, warna bau, pembentukkan lendir, dan lain-lain.
  2. Uji fisik untuk melihat perubahan-perubahan fisik yang terjadi lantaran kerusakan oleh mikroba maupun oleh reaksi kimia, contohnya perubahan pH, kekentalan, tekstur, indeks refraktif, dan lain-lain.
  3. Uji kimia untuk menganalisa senyawa-senyawa kimia sebagai hasil pemecahan komponen pangan oleh mikroba atau hasil dari reaksi kimia.
  4. Uji mikrobiologis, yang sanggup dilakukan dengan metode hitungan cawan, MPN, dan mikroskopis. Uji mikrobiologi memerlukan banyak peralatan dengan persiapan dan uji yang cukup lama, oleh lantaran itu dianggap tidak praktis. Beberapa uji mikrobiologi telah dikembangkan dengan metode cepat, tetapi pada umumnya memerlukan peralatan yang mahal dan materi kimia yang tidak gampang diperoleh.
Beberapa uji kimia juga memerlukan materi kimia yang tidak murah dengan waktu uji yang agak lama. Dari aneka macam uji kerusakan pangan tersebut di atas, beberapa uji yang di bawah ini dianggap cukup sederhana untuk diterapkan di daerah-daerah dengan kemudahan peralatan yang sederhana, yaitu:

  • Uji organoleptik: melihat tanda-tanda kerusakan masing-masing produk yaitu:
    • Perubahan kekenyalan/tekstur pada daging dan ikan.
    • Perubahan kekentalan (viskositas) pada produk-produk cair ibarat susu, santan sari, buah, sup, kaldu, dan lain-lain.
    • Perubahan warna pada semua produk pangan.
    • Perubahan bau pada semua produk pangan.
    • Pembentukkan lendir pada semua produk pangan berkadar air tinggi (daging, ikan, sayuran, sup, kaldu, dan lain-lain).
  • Uji fisik, yaitu:
    • Perubahan pH pada semua materi pangan dan produk pangan
    • Perubahan viskositas (viskosimeter)
    • Perubahan indeks refraktif pada air daging
    • perubahan warna (chromameter)
    • Perubahan tekstur (teksturometer)
  • Uji kimia, yaitu:
    • Uji H2S
    • Uji TMA
    • Uji VRS
    • Uji reduksi nitrat
    • Uji katalase
    • Uji reduksi warna (pada susu dan santan)
    • Uji etanol (pada susu)
  • Uji mikrobiologis, yang paling sederhana dan cepat yaitu uji secara mikroskopis dengan menghitung jumlah mikroba.


Uji Reduksi Warna dengan Biru Metilen

Salah satu cara untuk menghitung jumlah sel di dalam pola secara tidak eksklusif yaitu dengan uji reduksi biru metilen. Uji reduksi biru metilen biasanya dilakukan terhadap susu, dan sanggup menawarkan asumsi jumlah basil di dalam susu. 

Contoh lainnya yang sanggup diuji dengan cara pengujian biru metilen contohnya santan. Dalam uji ditambahkan sejumlah biru metilen ke dalam susu, kemudian diamati kemampuan basil di dalam susu untuk tumbuh dan memakai oksigen yang terlarut, sehingga mengakibatkan penurunan kekuatan oksidasi-reduksi dari gabungan tersebut. 

Akibatnya, biru metilen yang ditambahkan ke dalam pola akan tereduksi menjadi berwarna putih. Waktu reduksi, yaitu perubahan warna biru menjadi putih dianggap akhir jikalau kira-kira empat per lima dari pola susu yang terdapat di dalam tabung (sebanyak 10 ml) telah bewarna putih.

Semakin tinggi jumlah basil di dalam contoh, semakin cepat terjadinya perubahan dari biru menjadi putih yaitu lantaran Metode biru metilen merupakan cara yang lebih cepat dibandingkan dengan metode hitungan cawan yang memerlukan waktu beberapa hari untuk melihat hasilnya. 

Kelemahan metode biru metilen cara ini tidak mudah dilakukan terhadap susu yang mengandung basil dalam jumlah sedikit, lantaran dibutuhkan waktu yang terlalu usang untuk mereduksi biru metilen. 

Kelemahan lainnya yaitu lantaran dalam uji biru metilen dibutuhkan waktu pengamatan yang terus menerus, yaitu yang paling sedikit selama enam jam. 

Dengan metode ini juga tidak sanggup dibedakan jenis basil yang terdapat di dalam contoh, contohnya basil positif ayau negatif, basil pembentuk spora, kamir, dan sebagainya. 

Pewarna lain yang sanggup dipakai untuk uji reduksi warna dengan prinsip ibarat biru metilen yaitu resazurin, yang membutuhkan waktu reduksi lebih cepat daripada biru metilen. Dengan total basil di dalam pola sebanyak >107 koloni/g dibutuhkan waktu kurang dari 2 jam untuk mereduksi resazurin, sedangkan dengan jumlah basil 1,8 х 104 koloni/g dibutuhkan waktu reduksi selama 5 jam.

Hitungan Mikroskopik

Perhitungan jumlah mikroba secara eksklusif memakai mikroskop sering dipakai untuk menganalisis susu mengandung basil dalam jumlah tinggi, contohnya susu yang diperoleh dari sapi yang terkena mastitis, yaitu suatu penyakit bisul yang menyerang kelenjar susu sapi. 

Cara ini merupakan suatu cara cepat, yaitu menghitung tidak sanggup diterapkan terhadap pola (susu atau santan) yang telah mengalami pasteurisasi, lantaran secara mikroskopik tidak sanggup dibedakan antara sel-sel basil yang masih hidup atau yang telah mati lantaran perlakuan pasteurisasi. Dalam metode ini, luas areal pandang mikroskop yang akan dipakai harus dihitung terlebih dahulu. 

Hal ini sanggup dilakukan dengan cara mengukur diameter areal pandang memakai mikrometer yang dilihat melalui lensa minyak imersi.

Untuk menghitung jumlah basil di dalam contoh, sebanyak 0,01 ml pola dipipet dengan pipit Breed dan disebarkan di atas gelas obyek sehingga mencapai luas 1 cm2, kemudian didiamkan hingga kering, difiksasi, dan diwarnai dengan biru metilen.

Rata-rata jumlah basil per areal pandang mikrokop dihitung sesudah mengamati 10 hingga 60 kali areal pandang, tergantung dari jumlah basil per areal pandang. 

Sel-sel yang mengumpul dalam suatu kelompok, dihitung jumlah sel yang terdapat di dalam kelompok tersebut, tetapi jikalau mustahil sanggup dihitung sebagai satu kelompok. 

Hasil perhitungan menurut jumlah kelompok basil biasanya lebih mendekati hasil perhitungan jumlah basil memakai supaya cawan. Pada sapi yang terjangkit mastitis, susunya biasanya mengandung sel-sel darah putih dalam jumlah tinggi. Setelah pewarnaan dengan biru metilen, sel-sel darah putih akan terlihat sebagai sel yang bundar atau berbentuk tidak teratur, bewarna biru dengan ukuran lebih besar daripada bakteri. 

Mikrometer yang dipakai untukl mengukur luas areal pandang mikroskop yaitu mikrometer gelas obyek yang memiliki skala terkecil 0,01 mm. Areal pandang mikroskop biasanya memiliki ukuran 14-16 skala atau 0,14-0,16 mm. Beberapa mikrokop mungkin memiliki ukuran diameter areal pandang lebih dari 0,18 mm.

Luas areal pandang mikroskop = π r2 mm2 atau = π r2 / 100 cm2. Nilai r yaitu jari-jari aral pandang mikroskop. Karena jumlah pola yang disebarkan pada gelas obyek seluas 1 cm2 yaitu 0,01 ml, maka: Jumlah susu per areal pandang mikroskop = π r2/100 x 0,01 ml = π r2/10.000 ml. 

Dengan kata lain, untuk mendapat 1 ml pola sanggup diperoleh dari 10.000/ π r2 kali areal pandang mikroskop. Angka 10.000/ π r2 disebut juga factor mikroskopik (FM),dan dipakai untuk mengubah jumlah basil per areal pandang mikroskop menjadi jumlah basil per ml sebagai berikut. Jumlah basil per ml pola = 10.000/ π r2 x jumlah rata-rata.

Referensi :

Swacita, Ida Bagus Ngurah dan suardana, I Wayan. 2008. Buku bimbing KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER (KESMAVET). Universitas Udayana

Komentar dinonaktifkan: Bahayanya Mikoorganisme Patogen Pada Masakan Dan Sumber Pencemarannya

Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini

a Artikel Terkait Bahayanya Mikoorganisme Patogen Pada Masakan Dan Sumber Pencemarannya

Perawatan Pleci Auriventer Biar Cepat Ngalas Buka Paruh

Perawatan Pleci Auriventer Biar Cepat Ngalas Buka Paruh

T 17 May 2009 F A admin

Perawatan pleci auri memang tidak berbeda dari perawatan pleci jenis lainnya. Yang penting, pertolongan pakan harus teratur. Extra fooding (EF) juga rutin diberikan, menyerupai kroto, ulat kandang. atau ulat hongkong berwarna putih dan buah-buaah.  Buah-buahan yang sanggup diberikan antara lain... Selengkapnya

Cara Menentukan Bakalan Cucak Ijo Yang Prospek Juara Lomba

Cara Menentukan Bakalan Cucak Ijo Yang Prospek Juara Lomba

T 20 May 2009 F A admin

Cucak Hijau/Cucak Ijo si burung anggun dengan ciri khas berwarna hijau di sekujur bulunya ini menjadi primadona bagi para kicau mania alasannya yakni tidak hanya warna bulunya saja yang indah namun bunyi kicauannya pun juga sangat merdu. Jika anda sudah... Selengkapnya

Ciri Anakan Lovebird Prospek Lomba Yang Dapat Ngekek Panjang

Ciri Anakan Lovebird Prospek Lomba Yang Dapat Ngekek Panjang

T 6 July 2009 F A admin

Cara yang paling gampang untuk menemukan anakan lovebird yang dapat ngekek panjang sesudah umur 3 bulan. Orang biasa menyebut lovebird umur 2 bulan hingga 4 bulan dengan lovebird Paud. Memang unik sekali kedengarannya sebab dapat dianalogikan dengan anak kecil yang... Selengkapnya

+ SIDEBAR