Beranda » Uncategorized » Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

T Diposting oleh pada 23 June 2009
F Kategori
b Comments Off on Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)
@ Dilihat 2 kali

Proses fisiologis

A. rantai asam amino protein polipeptida. Protein ini lebih dari 1000 individu telah dicirikan dalam serum. Kebanyakan protein yang murni tidak biokimia. protein dikombinasikan dengan materi lainnya. Sebagai contoh, lipoprotein dan polisakarida (gula)




B. plasma yang mengandung fibrinogen dan faktor pembekuan lainnya. Serum dalam cairan yang tersisa setelah pembekuan darah dan tidak mengandung fibrinogen. Kebanyakan protein plasma disintesis oleh hepatosit pengecualian utamannya yakni imunoglobulin yang dihasilkan oleh limfosit -B dan sel plasma.

Gangguan Protein

A. Protein dyscrasia: yakni suatu kondisi dimana terdapat protein yang asing (abnormal struktur)

B. Dysproteinemia: keberadaan protein normal pada konsentrasi normal atau asing dalam darah

1.      selektif atau nonselective dysproteinemias

a. nonselective hyperproteinnemia: semua konsentrasi protein meningkat (panhy-perproteinemia). Ini hasil dari hemoconcentration.

b. Selektif hyperproteinnemia: konsentrasi protein lebih dari yang lain. Typicahy, itu tanggapan dari peradangan neoplsma atau oleh limfosit-B

c. nonselective hyperproteinnemia: semua konsentrasi protein meningkat (panhy-perproteinemia). Ini hasil dari hilangnya keseimbangan protein atau penurunan dalam keseimbangan sintetis

d. Selektif hyperproteinnemia: konsentrasi protein melebihi yang lain. Hal selektif hasil dari kerugian (biasanya protein kecil selektif hilang) atau dari sintesis selektif menurun dari satu atau lebih protein.


2. Untuk memilih apakah dysproteinnemia selektif atau nonselective, elektroforesis protein serum mungkin diharapkan untuk mengevaluasi konsentrasi kelompok protein relatif , terutama pada globulin. Binatang dengan hypoproteinemia, Hipoalbuminemia, dan hypoglobulinemia mungkin atau mustahil mempunyai nonselective hypoproteinemia,

a.        jika Hipoalbuminemia dan hypoglobulinemia ada  dan hasil elektroforesis memperlihatkan bahwa semua fraksi protein yang menurun secara proporsional, maka ada nonselective hypoproteinemia

b.       jika Hipoalbuminemia dan hypoglobulinemia ada dan hasil elektroforesis memperlihatkan bahwa fraksi protein yang tidak sebanding dan seimbang, maka ada selektif hypoproteinemia

c.        konsep yang sama berlaku untuk penilaian  hyperproteinemia.


Analytical PRINSIP

1. metode pengukuran

A.refractometry untuk mengukur (plasma atau serum)

1. prinsip: derajat pembiasan cahaya dalam solusi aqueosus sebanding dengan jumlah padatan dalam larutan. Karena sebagian besar solidsin plasma yakni protein, tingkat pembiasan cahaya sangat bergantung pd konsentrasi protein.

2. Refractometer’s tp dikalibrasi dengan skala asumsi bahwa perubahan dalam perubahan indeks bias konsentrasi protein sendiri. Sebuah kompensasi temperatur-refractometeris direkombinan atas kompensasi temperatur non-refractometer dari dua alasan

a. tidak memerlukan adaptasi sehari-hari yang didasarkan pada temperatur ruang.

b. Ini mungkin akan. lebih akurat. Jika kompensasi dan refractometers yakni mengkalibrasi non compensasi disetujui 68 0F, mereka akan tidak sepakat sekitar 0,3 g / dL pm 750F dan sekitar 0,7 g / Dl di 850C (TS400 Leica total padatan frctometers kembali literatur)



3. Interfrences

a. lantaran indeks bias larutan tergantung dalam konsentrasi solid pada sampel, konsentrasi tinggi dari banyak sekali substansi (misalnya, glukosa, urea, Na + Cl _) sanggup meningkatkan indeks dan dengan demikian membaca refractife TP. membaca falfalsely TP dilaporkan meningkat 0,6 g / dL konsentrasi glukosa dalam plasma yakni sekitar 300 mg / dL

b. limpemia akan meningkatkan indeks bias  dan dengan demikian akan meningkatkan dalam membaca TP

c. hemolisis menghasilkan plasma (Hgb) dari 0,5 g / dL  tidak mengganggu dalam membaca nilai-nilai indeks bias tetapi lebih sulit dibuat garis pemisah pada Refractometer

d. konsentrasi bilirubin 0.4 mg / dL tidak ikut campur dengan nilai-nilai indeks refractife Namun, Icterus biasanya terdaftar sebagai penyebab peningkatan nilai-nilai palsu dalam buku teks kimia klinis. Mungkin terjadi gangguan pada konsentrasi yang lebih tinggi.

4. konversi satuan: g / dL x 10 = g / L (SI unit, terdekat 1 g / L)

5. komentar

a. Penentuan [PTP] merupakan penggalan dari tes CBC dalam banyak sekali binatang laboratorium lantaran sederhana, cepat, dan metode murah untuk mendeteksi hyperproteimia dan hypoproteinemia

b. Kebanyakan refractrometers yang dikalibrasi untuk protein normal dalam plasma insan skala kalibrasi akan bervariasi antara spesies yang berbeda lantaran komposisi protein plasma, tetapi biasanya dianggap berbeda klinis tidak signifikan.

c. [TP] dalam serum juga sanggup diperkirakan dengan Refractometer; serum konsentrasi akan lebih rendah daripada plasma [TP] lantaran ia tidak adanya fibrinogen dalam serum. Namun, ada faktor-faktor lain yang mengakibatkan perbedaan antara plasma dan serum [TP] bahkan bila diukur dengan metode yang sama

1. H2O berdifusi dari erytrocytes selama pembekuan dan dengan demikian menurunkan serum [TP]. Seperti perubahan ini jarang dijelaskan, hanya sanggup menimbulkan perubahan kecil.

2. beberapa penyebab antikoagulan H2O berdifusi dari erytrocytes, tetapi tidak heparin.  zat terlarut dari antikoagulan akan menambah indeks reaktif sebagai pembiasan cahaya yakni properti fisik, [TP] ditentukan melalui refractrometer mungkin tidak sama ibarat yang ditentukan oleh reaksi biuret. Pada kenyataannya, seringkali agak berbeda (<0,3 g / dl), tetapi kadang kala berbeda sebanyak 2,0 g / dL pada sampel yang tidak hemolyzed, icteric, atau lipemic

C. reaksi Biuret untuk mengukur [TP] (serum)

1. prinsip: tembaga mengikat untuk membuat ikatan-ikatan peptida ungu kompleks; jumlah ikatan-ikatan peptida, dan karenanya jumlah perubahan warna, yakni propotional untuk [TP]. Namun, tidak semua protein reacy individu dengan cara yang sama dan tidak semua polipeptida protein murni yang berisi jumlah yang sama nitrogen menurut berat

2. gangguan: di beberapa tes, hemolisis sanggup mengakibatkan gangguan positif (ence Hgb. di 400 mg / dL. akan menghasilkan 12% bias). Dekstran juga sanggup mengakibatkan gangguan positif. Peptida kecil mungkin bereaksi namun sangat sedikit berkontribusi terhadap total perubahan warna; (NH4 +) terlalu rendah untuk ikut campur.

3. konversi satuan: g / dL x 10 = g / L (SI unit, terdekat 1 g / L)

4. komentar: biuret reaksi yang paling umum metode pengukuran spectrophotometric serum [TP]

II metode untuk mengukur konsentrasi albumin
A. Pewarna BCG reaksi mengikat (serum)
1. prinsip preferentially BCG mengikat dengan albumin dan menghasilkan warna kompleks: kuantitas BCG-Alb kompleks propotional ke konsentrasi albumin

2. gangguan
a. Pengikatan BCG untuk globulin meningkat akan menghasilkan salah konsentrasi Albumin. Nonalbumin yang mengikat sanggup mengakibatkan kesalahan yang signifikan konsentrasi albumin serum sangat rendah (<1 g / dl) dibandingkan dengan mencampuri globulin (misalnya, α2 – macroglobulin) konsentrasi.

b. Dalam beberapa assay, Hgb di 0,4 g / dL akan mengakibatkan bias 24% positif: trigliserida di 0,8 g / dL akan memperlihatkan gangguan negatif sekitar 0,2 g / dL

3.unit konversi: g / dL x 10 = g / L (SI unit, terdekat 1g / L)

4. komentar; BCG pewarna mengikat yakni yang paling umum spectrophotometric metode pengukuran konsentrasi albumin serum.

B. BCP reaksi mengikat pewarna  (serum):
BCP dipakai mengikat di beberapa laboratorium medis BCP. tetapi insan tidak sanggup dipercaya dengan semua molekul albumin mamalia. BCP assay sanggup memberi palsu rendah (kadang-kadang tajam rendah) hasil dalam beberapa spesies domestic

C. mengikat pewarna 9 serum haba reaksi); tidak sanggup mendapatkan amanah dalam serum mamalia domestic

D. protein electroporesis
III atau Menentukan metode untuk mengukur total konsentrasi globulin
A) Konsentrasi Total globulin ditentukan oleh pengurangan
1. Prinsip: semua protein dalam serum albumin yakni banyaknya globulin
2. Globulin konsentrasi + TP konsentrasi – konsentrasi albumin

B) protein electrophoresis

C) unit konversi: g / dL x 10 = g / L (SI unit, terdekat 1g / L)

D) komentar
1. konsentrasi globulin akan akurat apabila diukur konsentrasi TP dan albumin
2. konsentrasi globulin mewakili konsentrasi total dari semua protein selain serum albumin (lebih dari 1000 protein haptoglobin, mentransfer, macroglobulin, lipoprotein, dan imunoglobulin)

IV. Konsentrasi fibrinogen plasma
A. Metode presipitasi panas
1. prinsip: Perbedaan TP dalam sampel sebelum dan setelah pemindahan panas melalui presipitasi fibrinogen (56-58C) dan sentrifugasi memperkirakan konsentrasi fibrinogen

2. konversi satuan: g / dL x 10 = g / L (SI unit, terdekat 1g / L)

3. komentar
a) Suatu teknik yang dipakai untuk semiquantitative layar untuk hyperfibrinogenemia
b) metode analisis yang memadai untuk sensivity dokumen hypofibrinogenemia. Karena setiap membaca refractometric yang paling akurat ke pusat 0,1 g / dl, fibrinogen nilai yang dihitung harus dianggap sebagai terbaik dalam 0,2 g / dl dari nilai sebenarnya.

4. Garis Besar Metode menimbulkan panas
a) Isi dua tabung microhematocrit (setidaknya 3/4full) dengan anticoagulated EDTA-darah. Spin Tubesspin tabung di microhematocrit centrifuge selama 5 menit
1. tabung pertama:  untuk terdekat 0,1 g / dL
2. tabung kedua: Tempatkan di 56-58 C H2 atau basuh selama 3 menit, putar di microhematocrit sentrifugal ibarat sebelumnya kemudian ditentukan melalui Refractometer ke pusat 0,1 g / dL.


b) menghitung konsentrasi fibrinogen
1. menghitung konsentrasi fibrinogen = [p TP] tabung pertama – [TP] tabung kedua
2. contoh: 7.0 g/dL- 6,7 g / dL

B. waktu trombin (trombin pembekuan waktu)
1. prinsip: waktu trombin yakni waktu yang diharapkan untuk pembentukan fibrin setelah penambahan trombin untuk sitrat plasma. Waktu trombin Terutama tergantung dari  konsentrasi fibrinogen, semakin rendah konsentrasi fibrinogen, semakin usang waktu thrombin

2. Lihat Bab 5 untuk rincian yang berkaitan dengan trombin Clauss waktu dan waktu trombin modifikasi

C. beberapa orang telah berusaha menghitung konsentrasi fibrinogen Menentukan diference antara [p TP] dari EDTA-plasma dan [TP] dari serum sampel. Metode ibarat tidak rekombinan lantaran dari faktor-faktor yang mengakibatkan nonfibrinogen plasma dan perbedaan antara serum total protein konsentrasi. juga, kesalahan scan muncul ketika dua sampel yang berbeda dibandingkan dan yang dikumpulkan

V. SPE untuk Menentukan pecahan protein
A. Prinsip
1. serum protein menjadi empat atau enam untuk kelompok-kelompok terpisah dari kelompok besar menurut kemampuan mereka untuk bermigrasi melalui agrarosein untuk cellose asetat atau medan listrik. Tingkat migrasi menuju anoda didasarkan pada muatan listrik dan massa dan bentuk protein. 

Dalam mamalia domestik, albumin sedang bermigrasi jauh Karena kurangnya muatan negatif yang ditandai.dengan  Globulin lain yang sangat besar muatan negatifnya tetapi anoda yang mengakibatkan migrasi. Ada yang besar dan immunoglobulin kationik Dan dengan demikian bermigrasi ke katoda atau tidak bermigrasi.

2. variasi utama
a) kelompok protein yang sama di masing-masing spesies binatang mempunyai sedikit perbedaan moderat migrasi
b) memakai elektroforesis selulosa asetat memisahkan protein ke 5-9 kelompok protein, sedangkan dengan memakai agarosa memisahkan protein ke protein 10-15 kelompok. Sebuah kelompok protein sanggup mewakili satu protein atau beberapa protein yang bermigrasi dengan jarak yang sama
c) kelompok protein yang dikelompokkan ke dalam elektroforesis kawasan protein globulin. Dengan acetatemethods selulosa, kelompok umum binatang domestik yakni sebagai berikut.
1. di kebanyakan anjing, kucing dan kuda globulin akan sanggup dilihat  menjadi lima wilayah
2. di kebanyakan ternak , yang terlihat hanya tiga kawasan globulin

B. menghitung konsentrasi protein dalam pecahan
1. Protein konsentrasi suatu kelompok elektroforesis yakni produk dari [TP] dan persentase TP diduduki oleh suatu daerah. 

Ketika sebuah noda strip selulosa asetat discan dengan Densitometer, bernoda protein mengambarkan kurang cahaya untuk ditularkan melalui strip ke detektor. 

Penurunan pengiriman dicatat sebagai defleksi pada Densitometer scan atau pelacakan. Setelah strip selulosa asetat dipindahi, kurva mewakili relatif Kuantitas protein yang  dihasilkan.  Area di bawah kurva memperlihatkan total jumlah protein yang ternoda.

2. densitometers yang dikalibrasi melalui hasil strip asetat tidak defleksi jarum. Selain itu, mungkin densitometers dikalibrasi sehingga penyumbatan cahaya  disebabkan oleh kelompok protein yang paling gelap hasil hampir  dalam 100% defleksi jarum. 

Kelompok paling gelap biasanya yakni kelompok albumin tetapi sanggup ditemukan dalam pecahan globulin.

3. persentase dari luas kawasan total di bawah kurva masing-masing kawasan dihitung untuk memilih persentasenya [TP] dan diwakili oleh masing-masing elektroforesis, persentase tersebut dikalikan dengan [TP] untuk memilih asumsi protein elektroforesis konsentrasi di masing-masing daerah. Sebagai contoh, bila [TP] yakni 6,0 g / dL dan hasil elektroforesis memperlihatkan bahwa 50% dari protein albumin tegang dalam band, maka konsentrasi albumin dihitung untuk menjadi 3,0 g / dL

4. selulosa asetat metode dengan ponceau S noda lebih akurat daripada metode analitis agarosa Karena intensitas pewarnaan hampir sebanding dengan jumlah protein. Akan tetapi, akurasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk diukur [TP]. keakuratan Densitometry, dan protein menandai daerah. 

Noda protein yang lain mempunyai batas deteksi yang lebih baik tapi bukan sebagai menodai intensitas sebanding dengan kuantitas protein hadir sebagai dengan Ponceau S noda.

C. Protein yang merupakan kontributor utama pola elektroforesis yakni shoen dalam Gambar. wilayah migrasi protein manusia: ada sedikit dokumentasi dari mana protein mamalia lainnya bermigrasi. Untuk beberapa sera (sapi) hanya ada atau empat fraksi globulin akan terdeteksi.

D. Komentar
1. SPE mempunyai nilai diagnostik yang terbatas: ia mungkin sanggup membantu untuk membedakan penyebab hyperproteinemia, ciri hyperproteinemias ke dalam kategori selektif, layar untuk monoklonal gammopthy di normoproteinemic dan hyperproteinemic sera, dan memperlihatkan asumsi yang lebih akurat albumin globulin mengganggu konsentrasi ketika dengan alat tes BCG.


HYPERPROTEINEMIA (peningkatan (TP) dalam serum atau plasma)
Penyakit dan kondisi yang mengakibatkan hyperproteinemia tersaji dalam tabel 7.3

       I.            Hemokonsentrasi
A.    Hemokonsentrasi yakni penyebab paling sering pada hyperproteinemia.
Tabel 7.3. Penyakit dan kondisi penyebab hyperproteinemia        
»        Hemokonsentrasi
Meningkatkan sintesa protein
Penyakit- penyakit yang mengakibatkan radang
»        Infeksius         : bakteri, virus, fungi, protozoa
»        Non infeksius  : nekrosis, neoplasia, penyakit berpenrantara imun

Lymphocyte B neoplasia
»        Sel plasma       : multiple myeloma, plasmasitma
»        Lymphocyte    : lymphoma, lymphocyte leukemia

Catatan: semua penyakit dan kondisi ini mungkin mengakibatkan hyperglobulinemia tapi hanya hemokonsentrasi yang menjadi penyebab bersamaan dengan hyperalbuminemia.

B.     Pathogenesa: Hyperproteinemia hasil dari konsentrasi protein plasma dalam kaitan dengan hilangnya plasma H2O. Plasma H2O hilang dan diakibatkan penurunan volume ECF mungkin dalam kaitannya dengan muntah, diare, kemampuan konsentrasi ginjal lemah, berkeringat, hilang secara mati rasa melalui respirasi, meningkatnya permeabilitas pembuluh darah atau menurunnya kombinasi intake H2O dengan kehilangan normal.

C.     Jika protein berbentuk padat dalam plasma, kemudian plasma mengandung sekitar 93% H2O dan 7% protein dan (TP) mungkin sekitar 7.0 g/dL dalam kesehatan tubuh. Jika kehilangan cairan tubuh mengakibatkan penurunan 10% volume dalam plasma, (TP) mungkin meningkat sekitar 7.8 g/dL (7.0/0.9 = 7.78).

D.    Semua protein dikonsentrasika oleh hilangnya plasma H2O; oleh lantaran itu, konsentrasi albumin, globulin, dan fibrinogen secara proporsional meningkatjika dehidrasilah penyebab dysproteinemia.

E.     Penemuan lain yang diharapkan dalam labooratorium
1.      Eritositosis
2.      Prerenal asotemia
3.      Hypersthenuria bila mekanisme konsentrasi renal berfungsi
    II.            Peningkatan sintesa protein
A.    Peradangan
1.      Radang yakni penyebab utama kedua dari hyperproteinemia.

2.      Pathogenesa: radang (disebabkan oleh bisul atau proses lain) merangsang sintesa globulin oleh hepatosit dan mungkin imunogloblulin oleh lymphocyte B. Beberapa sitokin, khususnya interleukin-6, mengubah dalam sintesa protein atau pelepasan protein dari hepatosit. Sitokin utamanya mengatur transkripsi.

3.    Terdapat tiga kelompok utama protein dalam suatu penyebab radang dysproteinemia.
a.       Positif akut fase protein
1)      Protein- protein ini dimana konsentrasi plasma atau serum meningkat selama radang akut, lantaran peningkatan produksi oleh hepatosit dalam respon radang sitokin. Kelompok ini termasuk beberapa α1-globulin, α2-globulin (seperti haptoglobin dan α2 makroglobulin), fibrinogen, serum protein amyloid A, dan C-reaktif protein.

2)      Produksi protein ini mungkin meningkat dalam beberapa jam dan berlangsung selama proses radang terjadi. Meningkatnya konsentrasi plasma atau serum mungkin akan tampak dalam waktu dua hari setelah peradangan.


b.      Negative akut fase protein
1)      Protein- protein ini dimana konsentrasi serum atau plasma menurun selama radang akut, lantaran menurunnya produksi oleh hepatosit. Kelompok ini termasuk albumin dan transferrin.

2) Kaitannya dengan masa hidup dari albumin dan transferrin, hypoalbuminemia dan penurunan TIBC (cerminan dari konsentrasi transferrin) mungkin tidak tampak hingga radang terjadi paling lambat seminggu.

c.       Respon protein tertunda
1)      Protein- protein ini dimana konsentrasi plasma atau serum meningkat 1-3 ahad setelah peradangan kaitannya dengan meningkatnya produksi.

2)      Kelompok ini termasuk semua immunoglobulin (terutama IgG) dan tambahan (C3). Meningkatnya sintesa dari bermacam- macam immunoglobulin oleh banyak tipe (atau klone) dari lymphocyte B suatu poloklonal gammopathy.

4.      Pola dysprotenemia yang diharapkan
a.       Respon fase akut: hyperproteinemia kaitannya dengan radang akut sekitar 2-7 hari lamanya.

1) Hyperproteinemia ringan kaitannya dengan hyperglobulinemia (peningkatan α1– dan/atau α2– globulin dan hyperfibrinogenemia).
2) Kemungkinan hypoalbuminemia ringan atau rendah- normal konsentrasi serum albumin.

b.     Respon tertunda: hyperproteinemia kaitannya dengan radang kronis lebih dari 7 hari lamanya.

1) Hyperprotenemia (dengan tanda ringan) kaitannya dengan hyperglobulinemia (meningkatnya fase positif akut dan/atau respon protein tertunda); poliklonal gammopathy mungin atau mustahil tampak dengan SPE.

2)      Hypoalbuminemia ringan hingga sedang mungkin terlihat

3)      Perubahan higienis dalam konsentrasi protein mungkin memproduksi suatu dysprotenemia dengan konsentrasi rendah albumin dan konsentrasi tinggi dar beberapa penggalan globulin.

c.       Poliklonal gammopathy: hyperprotenemia kaitannya radang kronis dan penyakit infeksius yang khas.

1)      Hyperprotenemia kaitannya dengan hypergammaglobulinemia (yang khas IgG); penggalan γ- globulin mungkin berdasar luas atau mempunyai suatu perpindahan yang terbatas yang kesudahannya dalam “compact γ- globulin band” dimana menirukan monoclonal yang tajam.

a)      Poliklonal immunoglobulin terdiri dari satu atau lebih rantai berat dan rantai ringan.

b)     Suatu poliklonal gammotopathy dengan perpindahan terbatas disebut dengan ologoclonal gammopathy. Itu bukanlah monoclonal gammopathy lantaran proteinnya tidak sesuai untuk protein monoclonal; terdapat peningkatan dalam  k dan λ rantai ringan.

c) Monoclonal gammopathy oleh beberapa penulis sudah digambarkan pada binatang dengan penyakit infeksius (seperti ehrlichiosis, leishmaniasis) yang mungkin sudah oligoklonal gammopathy.

2)      Hypoalbuminemia ringan hingga sedang


5.      Data laboratorium lain yang diharapkan
a.  Mungkin perkembangan anemia dari penyebab radang bila peradangan berlangsung.
b.      Radang neutrophilia atau neutropenia.
c.       Radang lymphocytosis atau lymphopenia
d.      Radang monocytosis.

6.      Proses patologik yang bersamaan mungkin menyulitkan interpretasi dari data protein. Sebagai contoh, bias terdapat peningkatan produksi fibrinogen yang bersamaan kaitannya dengan radang dan peningkatan penggunaan fibrinogen dalam kaitannya dengan pembekuan intravascular. Atau, bias terdapat radang yang bersamaan dan hemokonsentrasi atau radang dan protein-losing state.

B.     Lymphocyte B neoplasia
1.      Pathogenesa: neoplastik lymphocyte B menghasilkan immunoglobulin dalam jumlah besar; secara khas, terdapat satu garis sel neoplastik atau satu klone lymphocyte neoplastik. 

Klone tunggal dari lymphocyte menghasilkan suatu electrophoretically, structural, dan antigenic immunoglobulin homogen atau perbandingan subunits immunoglobulin homogen. Hasil dari dysproteinemia disebut monoclonal gammopathy.

2.      Protein yang diproduksi neoplasia lymphocyte B kadang- kadang disebut juga M- protein(untuk protein monoclonal). “M” juga sudah dipakai sebagai kependekan untuk myeloma dan macroglobulin dan dengan begitu menginterpretasikan dalam konteks “M- protein”. 

Suatu protein monoclonal terdiri dari dua rantai berat pada klas yang sama (seperti IgM) dan subklas ( ibarat IgG1, IgG2) dan dua rantai ringan dengan tipe yang sama (tidak juga pada k atau λ, atau keduanya). Sel neoplastik memproduksi immunoglobulin utuh, rantai ringan bebas, hanya rantai berat, atau fragmen yang abnormal.

3.      Tipe dari neoplasia lymphocyte B dimana penyebab pada gamopathy
a. Sel plasma neoplasia: Multiple myeloma (penyebab paling sering), ekstramedulari plasmacytoma.
b.      Lymphocyte neoplasia: lymphoma, lymphocyte leukemia.

4.      Pola dysproteinemia yang diharapkan
a.   Ditandai hyperproteinemia ringan yang diproduksi oleh hyperglobulinemia dimana mengandung suatu monoclonal gammopathy. Protein monoclonal mungkin berpindah dalam β-atau γ- penggalan globulin.

1)      Secara khas IgG berpindah dalam penggalan γ- globulin; secara khas IGM dan IgA berpindah pada campuran β-γ atau dalam penggalan β- globulin.

2)      Perpindahan elctrophoretic yang tidak biasa mungkin disebabkan oleh degradasi protein, binding pada protein lain, deretan immunoglobulin kompleks, dan produksi immunoglobulin yang tidak lengkap (rantai ringan, rantai berat, atau fragment abnormal).

3)      Konsentrasi immunoglobulin selain dari sering berkurangnya protein monoclonal.

b.  Hypoalbuminemia ringan hingga sedang disebabkan oleh berkurangnya sintesa albumin hubungannya dengan radang sitokin, atau oleh mekanisma feedback negative termasuk reseptor tekanan oncotic pada hepatocyte. Peningkatan konsentrasi dari γ- globulin ( tidak oleh infuse atau produksi endogen) mengakibatkan sintesa albumin berkurang, tapi mekanismenya belum dibentuk.

5.      Menetapkan keadaan dari suatu monoclonal gammopathy dalam mamalia domestic yakni jarang terjadi.
a.       Serum electrophoresis mempunyai kegunaan untuk menyaring potensi monoclonal spike tapi sering kurang cukup spesifik untuk percaya, membedakan monoclonal gammopathy dari poliklonal restriksi atau oligoklonal gammopathy.

1)      Agarose electrophoresis atau metode electrophoretic resolusi tinggi akan menigkatkan deteksi protein grup band diatas metode selulosa asetat, tapi mereka tidak menyediakan informasi yang diharapkan untuk memastikan keadaan monoclonal gammopathy.

2)      Batas globulin spike tidak dalam penggalan γ- globulin mungkin yakni suatu monoclonal gammopathy, semenjak contohnya grup band biasanya hubungannya tidak dengan IgA atau IgM dan tidak juga IgG. Konsentrasi tinggi IgA atau IgM tidak diharapkan dalam respon imun non neoplastik.

3)      Batas globulin spike dalam penggalan γ- globulin bias saja monoclonal gammopathy ( hubungannya dengan neoplasia lymphoid B) atau oligoclonal (atau poliklonal restriksi) gammopathy (kaitannya dengan respon imun).

b.      Imunoelectrophoresis
1)      Jika protein monoclonal dicurigai, kemudian imunoelectrophoresis dengan spesies yang spesifik dari anti- IgG (termasuk subklas), anti- IgM, anti- IgA, anti- k chain, atau anti- λ chain diharapkan untuk membedakan monoclonal dan poliklonal gammopathy. Sayangnya, ibarat antisera jarang ada untuk mamalia domestic.

2) Jika yakni monoclonal gammopathy, kemudian konsentrasi meningkat dari satu klas rantai berat (atau subklas) akan dihubungkan tidak dengan rantai k atau λ, tidak keduanya.

c. Imunofiksasi dilaporkan mempunyai sensitifitas yang lebih tinggi dari imunoelectrophoresis tapi memerlukan monospesifik antisera pada IgG, IgM, IgA, dan bebas dan terikat rantai k atau λ.

d.      SRID
1)   SRID assay untuk [IgM] dan [IgA] dipakai untuk mendukung kesimpulan monoclonal gammopathy, lantaran konsentrasi tinggi dari IgM atau IgA tidak diharapkan dalam keadaan radang.

2) SRID assay untuk total [IgG] tidak bisa dipakai untuk membedakan IgG poliklonal gammopathy dari IgG monoclonal gammopathy.

6.      Laboratorium tergabung dan masalah- duduk kasus klinis
a.       Bence Jones proteinuria (BJ protein = immunoglobulin rantai ringan)
1)    Bence Jones proteinuria mungkin terjadi lantaran terdapat peningkatan formation dari rantai ringan k atau λ oleh sel lymphoid. Rantai ringan (Mr ≈ 23,000 monomor atau 46,000 dimer) bebas melewati penghalang filtrasi glomerulus dan jumlah kecil yang direabsorsi oleh tubulus proksimal. 

Jika  kapasitas resoptif ginjal terlewati atau bila penyakit ginjal berkembang, rantai ringan dikeluarkan dalam urin. Jika protein terkonsentrasi utama pada electrophoresis, rantai ringan bias ditemukan dalam penggalan β2– globulin.

2)      Bence Jones protein tidak bereaksi besar lengan berkuasa dengan protein reagen dari mekanisme urinalisis rutin tapi bekerja dengan mekanisme sulfosalicylic acid. Maka, tes reagen mungkin gagal untuk mendeteksi proteinuria yang signifikan.

3)      Kepastian dari Bence Jones proteinuria yang dicoba dengan dua metode
a)      Tes Bence Jones: Bence Jones protein mempunyai sifat panas yang unik; mereka dengan cepat diantara 40°C dan 60°C, kembali ke keadaan yang sanggup larut pada 100°C, kemudian dengan cepat lagi ketika dingin. Konsentrasi Bence Jones protein memerlukan lebih dari > 145 mg/dL untuk mendapatkan hasil positif. Protein lain bisa dengan cepat dan membuat interpretasi yang sulit; protein ini mugkin dipindah dengan penyaringan urine panas kemudian penyaring bisa dipakai untuk tes Bence Jones. Sifat panas Bence Jones protein hhubungannya dengan porsi variable dari rantai ringan.

b)      Imunoelectrophoresis untuk rantai ringan k atau λ yakni metode yang lebih disukai tapi tidak siap ersedia untuk spesies individu.

b.      Sindrom hyperviscositi
1)      Konsentrasi immunoglobulin tinggi disebabkan plasma menjadi kental. Plasma kental berperan penting untuk melempemkan pemikiran darah dalam kapilerdan mengakibatkan perfusi yang lemah dan hipoksia jaringan (stagnan hipoksia). Jaringan utama yang terpengaruh termasuk otak, mata, dan ginjal.

2)      Konsentrasi tinggi protein plasma juga mengakibatkan kecacatan fungsi platelet.

3)      Sindrom hiperviscosity tampak dengan tingginya konsentrasi IgA, IgG, atau IgM.


7.      Pendapat
a. Meningkatnya konsentrasi dari immunoglobulin disebut dengan gammopathyyang tanpa terlihat dimana immunoglobulin berpindah dengan SPE (bisa dalam penggalan α- ,β-, γ- globulin).

b. Beberapa penulis sudah melaporkan bahwa bisul (ehrlichiosis) bisa mengakibatkan monoclonal gammopathy, karenabatas dasar ketajaman tampak di scan densitometer dari SPE rutin. 

Pengamatan ketajaman mungkin sudah menggambarkan suatu compact γ- globulin grup band (disebut oligoklonal atau restriksi poliklonal gammopathy) dimana banyak tipe IgG berpindah dalam ruang restriksi yang sama. Hal ini sangat tidak biasa bahwa suatu bisul dengan organisme kompleks sperti Ehrlichia akan menghasilkan rangsangan hanya dari satu klone lymphocyte untuk memproduksi monoclonal gammopathy dengan hanya rantai ringan k atau λ.


HIPOPROTEINEMIA (PENGURANGAN TP DALAM SERUM ATAU PLASMA)
Penyakit dan kondisi penyebab hipoproteinemia disajikan dalam tabel 7.4
I. Peningkatan kehilangan protein dari ruang vaskuler
 A. Pengeluaran darah (pendarahan eksternal akut atau kronis)
1)      Patogenesis: Hypoproteinemia terjadi bila sisa protein plasma dilemahkan oleh pergerakan cairan extracellular yang mengalir dari ruang extravascular ke ruang intravascular.
Tabel 7.4. kondisi dan Penyakit yang mengakibatkan hypoproteinemia        
Kerugian peningkatan protein dari ruang vascular
  • Pengeluaran darah (blood loss)
  • Protein-Losing nephropathy: glomerulonephritis, amyloidosis
  • Protein-Losing enteropathy: penyakit mukosa usus halus, lymphangiectasia, pengeluran darah dari usus
  • Protein-Losing dermatopathy: membakar, generalisasi eksudatif penyakit kulit

Penurunan sintesa protein dan atau peningkatan katabolisme protein
  • Insufisiensi hepatic
  • Malabsorbsi atau maldigesti: penyakit mukosa usus, insufisiensi eksokrin pada pankreas
  • Cachectic states: penyakit kronis, neoplasia, kekurangan gizi (malnutrisi), starvasi hipoplasia lymphoid atau aplasia

Kegagalan transfer pasif (FPT)
Hemodilution
  • Kelebihan manajemen dari pemberian cairan intravena
  • Kelainan edematous : kegagalan congesti jantung, cirrhosis, sindrom nephritic
  • Kelebihan pengeluaran ADH : SIADH
Catatan : konsentrasi protein total pada anak anjing sehat, anak kucing, pendet, dan anak kuda mungkin 1-2 g/dL dan jumlahnya berkurang pada binatang dewasa

(Lihat Mekanisme dari anemia akut kehilangan darah secara eksternal). Hypoproteinnemia akan tetap terjadi selama kecepatan kehilangan protein lebih besar daripada tingkat memproduksi protein.
 2. Penentuan laboratorium
a. Panhyproteinemia: penurunan TP yang diikuti dengan penurunam konsentrasi albumin dan globulin, nonselektif hipoproteinemia
b. Anemia: jenis anemia tergantung pada kroniknya pengeluaran darah
B. PLN
1. Phatogenesis: kerusakan glomerulus ginjal ( e.g., dengan imin komplek atau deposit amiloid) mengakibatkan reaksi podocytes maupun  hilangnya  permeabilitas  selektip dari  membaran dasar glomerular. Salah satu atau kedua lesi mungkin akan bertambah besar lebih secara negatif mengandung protein melalui filtrasi glumerulus. 

Jika protein memasuki filtrat pada kecepatan yang lebih besar dibandingkan reabsorpsi tubulus proximal, akan terjadi proteinuria. Jika kecepatan kehilangan protein melebihi produksi proteinnya, akan terjadi hipoproteinemia. 

Protein yang sangat besar (2-macroglobulin dan beta-lipoprotein) secara khas tidak hilang melalui glomerulus dan terjadi hipoproteinemia yang selektif. Karena anjing dan kucing secara normal sedikit mempunyai beta-protein, praksi beta 2 globulin secara khas tidak meningkat pada orang dengan PLN.

2. Penyakitnya: glomerulonephritides, amyloidosis

3. Penentuan Laboratorium
a. Menandai hypoproteinemia dengan hypoalbuminemia dan normoglobulinemia ( hypoglobulinemia)
b. Hasil SPE : pola hypoproteinemia selektip alpha 2-globulins WRI atau hanya sedikit yang berkurang, tetapi fraksi protein lain dengan niscaya akan berkurang ( lihat plat5.I.1)
c. Proteinuria yang ditandai oleh albuminuria ( lihat Plat 5.I.2)
d. mungkin akan terjadi insufisiensi ginjal ( azotemia, isosthenuria) bila penyakit tersebut sudah merusak nephron
e. Hypercholesterolemia dan transudate abdominal terjadi bila terjadi sindrom nephritic
C. PLE
 1. Pathogenesis
 a. Sekresi usus relative kaya protein, yang secara khas dicerna dan diabsorbsi dalam usus halus, dan kemudian diangkut menuju system portal dan cairan getah bening limpatik. Jika generalisasi penyakit mukosa usus halus atau penyakit limpatik menhalangi penyerapan atau pengangkutan protein, maka protein akan hilang dalam feses. Jika tingkat pengeluaran protein melebihi produksi protein oleh hati dan limposit, maka terjadilah hypoproteinemia.

b. Dalam beberapa kekacauan, eksudatif inflamasi dan pengurangan distribusi protein intake untuk hipoproteinemia.

 2. Penyakit
a.Generalisasi penyakit mukosa usus halus: lymphoma, histoplasmosis, limphositik/plasmasitik/eosinophilic enteritis
            b.  Kuda dengan enteritis akut
c.  Penyakit limfatik: lymphangiectasia, lymphosarcoma
d. Pengeluaran darah usus : cacing tambang, cacing cambuk, neoplasia

 3. Penentuan laboratorium utama
a. lembut untuk menandai hypoproteinemia dengan hypoalbuminemia dan hypoglobulinemia (normoglobulin)
b. Hasil SPE : umumnya nonselective mempola tetapi mungkin selektif
c. Temuan lain memperlihatkan indikasi atau sugesti status pathologic ( e.g., organisme histoplasma atau neoplastik limposit dalam teladan biopsi; melena atau bukti lain kehilangan darah).
 D. Kehilangan Protein dermatophaty
 1. Phatogenesis
a.  Suhu atau pembakaran kimia memungkinkan protein plasma untuk keluar dari lesi kulit pada kecepatan yang lebih baik dibandingkan dengan kecepatan dalam memproduksi protein
b. Generalisasi eksudatif penyakit kulit sanggup didistribusikan menuju hypoproteinemia tetap, tetapi disproteinemia sanggup mencerminkan kehilangan protein dan inflamasi disproteinemia
2. Penentuan laboratorium
a. Awal: nonselective hypoproteinemia
b Kemudian: nonselective hypoproteinemia disembunyikan juga oleh akut atau cronik inflamasi disproteinemia.
II. Penurunan sintesis protein dan peningkatan katabolisme protein
A.    Insufisiensi Hepatik atau kegagalan Hepatik
1.      Patogenesis : tanda reduksi pada fungsional massa hepatic (sisa < 20% mengakibatkan penurunan sintesis hampir semua plasma protein kecuali immunoglobulin. Katabolisme protein normal dikombinasikan dengan penurunan sintesis protein mengakibatkan hipoproteinemia.

2.      Penyakit
a.       Cirrhosis
b.      Nekrosis hepatic atau inflamasi (tidak akut)
c.       Atropi hepatic sekunder
d.      Neoplasma diakibatkan kerusakan ekstensif dari hati

3.  Penemuan laboran mayor
a. Hipoproteinemia, hipoalbuminemia, dan normoglobulinemia atau hipoglobulinemia

b. hasil SPE : tipe susunan nonselektif : kemungkinan relative kelebihan dari atau karena satu dari 2 teori :

(1) Bisa jadi sebagai pengganti peningkatan sintesis dari immunoglobulin untuk perjuangan memelihara koloid atau tekanan onkotik dalam system vaskuler.
(2) Hati memindahkan material antigenic dan IgA dari pintu gerbang darah. Dengan insufisiensi hepatic : antigenic material ; tambahan material antigenic masuk ke darah peripheral dan mengakibatkan respon imun sistemik (IgM, IgA, atau IgG menurun). Karena IgM dan IgA migrasi dengan fraksi globulin dan IgG dengan fraksi kemungkinan saja tidak terang perbedaan antara dan fraksi (disebut jembatan beta-gamma)

4.    Penemuan materi kimia lain dari penyakit hepatic atau disfungsi : penurunan kegiatan enzim hepatic, penambahan konsentrasi urea, penurunan asam empedu atau konsentrasi ammonium.
B. Malabsorpsi dan maldigesti
1. Patogenesis : malabsorpsi atau maldigesti mengakibatkan defisiensi intake dari materi bakar tubuh (karbohidrat, protein, atau lemak) untuk mengganti materi bakar yang dipakai oleh jalan metabolic untuk energy tiap hari.

katabolisme protein sekali habis dan penggunaan asam amino untuk glukoneogenesis peranan penting dalam defisiensi energy dan asam amino untuk hepatoseluler dan limphositik sintesis protein. Ketika katabolisme melampaui produksi, terjadilah hipoproteinemia.

2.    Penyakit
a. Malabsorpsi : penyakit usus halus dimana umumnya mukosa terlibat dikarenakan malabsorpsi dari pencernaan protein, karbohidrat, dan lipida.

b. Maldigesti : defisiensi eksokrin pankreatik (karena pancreatitis kronis atau atropi pancreas) menimbulkan defisiensi-defisiensi pada protease, lipase, dan amylase dan maldigesti dari protein, lipida lemak) atau karbohidrat (pati)

3.    Penemuan laboran mayor
a. Hipoproteinemia, hipoalbuminemia dan normoglobulinemia atau hipoglobulinemia.
b. Hasil SPE : tipe susunan nonselektif (lihat gambar 5H)
c. Penemuan lain bergantung pada keadaan patologi primer (penambahan ibarat tripsin immunoreaktivitas dengan insufisiensi eksokrin pankreatik, miskinnya peresapan xylose dengan malabsorpsi (lihat bab15)
C. Status Kekurusan
1. Patogenesis : ketika angka dari katabolisme protein melebihi produksi protein, status negative protein mengahasilkan hipoproteinemia.

Sebelum klinis hipoproteinemia berkembang, binatang percobaan mempertahankan glucose dan beberapa serum protein (khususnya albumin) pada suatu permukaan luas dari jaringan-jaringan lain. Oleh lantaran itu, hipoproteinemia ini diharapakan ketika sudah hilang dari berat tubuh lantaran penambahan lemak dan massa otot

2. Penyakit-penyakit
a. penyakit kronis ibarat bisul kronis dan neoplasia malignant
b. menjadi malnutrisi atau penderitaan kelaparan
3. Penemuan laboratorium mayor
       a. hipoproteinemia, hipoalbuminemia dan normoglobulinemia atau hipoglobulinemia
       b. SPE tipe susunan non-selektif
       c. inovasi lain bergantung pada penggalan patologik primer.
D. Hipoplasia lymphoid atau aplasia
1.  B-limphosit memproduksi immunoglobulin-imunoglobulin dan bukan plasma protein mayor yang lain.
       Hipoproteinemia ringan sanggup ditimbulkan oleh hipoplasia lymphoid bila konsentrasi protein-protein lain yakni WRI.

2.  Perkiraan disproteinemia
    a. (TP) yakni WRI dengan penurunan hingga titik rendah. Kosentrasi albumin pada WRI, dan kosentrasi globulin pada WRI atau penurunan hingga ke titik rendah.
       b. hasil SPE : penambahan kosentrasi – globulin

3. Penyakit-penyakit
       Imunodefisiensi dikombinasikan pada kuda (Arabian, Appaloosa) dan anjing (Basset Hound, Cardigan Welsh Corgi, Jack Russell Terrier) : memerlukan kuantitas teknik immunoglobulin untuk mengkonfirmasi penambahan atau defisiensi dari immunoglobulin-immunoglobulin.
       b. kemoterapi atau bisul mengakibatkan hipoplasia lymphoid.
III. FPT
A.    Neonatal yang meninggalkan ingesta atau absorbs colostrum antibody-antibodi akan menurunkan serum atau plasma (TP) lantaran penurunan (IgG). Bagaimanapun, peradangan atau kehilangan cairan tubuh sanggup meningkat (TP) pada beberapa binatang dan menutupi FPT tersebut.

B.     Hubungan antara (IgG) dan (TP) sudah diselediki dan dihasilkan diikuti oleh kesimpulan pada sera dari 1-8 hari umur anak sapi ketika dibandingkan dengan nilai tetap (IgG) 1000 mg/dL
1.      Dengan [sTP ref] 5,0 g/dL nilai tetap, 83 % sudah tepat diklasifikasikan berkenaan dengan status transfer pasif.
2.      Dengan [sTP ref] 5,5 g/dL nilai tetap, 82 % sudah tepat diklasifikasikan berkenaan dengan status transfer pasif.
IV.  Hemodilution: peningkatan volume ECF
A.    Apabila ECF meningkat yakni sangat luar biasa lantaran hipoproteinemia tetap mungkin menurunkan kosentrasi protein yang siap menurun tanggapan duduk kasus lain.

B.     Penyakit-penyakit atau kondisi-kondisi
1.      Kelebihan manajemen dari cairan intravena (terlalu cepat atau terlalu banyak) 
2.      Penyakit-penyakit Edema (gangguan kongesti hati, cirrhosis, syndrome nephrotik)
3.      Kelebihan sekresi ADH (SIADH).


HYPERALBUMINEMIA
Penyakit dan kondisi yang mengakibatkan hyperalbuminemia
Hemoconcentration
Peningkatan sintesis albumin yang diinduksi oleh obat atau hormone glukokortikoid

I.        hemoconcentration (dehidrasi): penurunan volume ECF
A.    H2O plasma menurun mengarah pada konsentrasi yang lebih besar dari zat (termasuk albumin) yang mempunyai rentang kehidupan bersirkulasi lebih usang daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengalami dehidrasi

B.     Hemoconcentration yakni alasan yang paling umum untuk hyperalbuminemia; hyperproteinemia dan mungkin bersamaan dengan erythrocytosis.

II.     sintesis disebabkan oleh terapi glukokortikoid
A.    terapi glukokortikoid sanggup mengakibatkan hyperalbuminemia pada anjing dan kucing (data belum di publikasikan). Pada anjing, konsentrasi albumin meningkat sekitar 2g/dl setelah 4-5 hari pengobatan dengan methylprednisone (4 mg/kg IM per hari). Pada anjing juga setelah 4 ahad pengobatan dengan prednisone (0,55 mg/kg),konsentrasi albumin meningkat 0,8g/dl disertai dengan peningkatan haptoglobin bersamaan konsentrasi

B.     peningkatan konsetrasi albumin mungkin merupakan hasil dari produksi atau rentang hidup.

III.  kekeliruan peningkatan konsentrasi ditentukan oleh metode pewarnaan BCG
A.    pewarnaan BCG lebih pada pengikatan albumin. Namun, hal itu juga mengikat protein lain,dan dengan demikian konsentrasi albumin yang diukur mewakili pewarna yang mengikat albumin dan beberapa globulin. Satu globulin mengikat pewarna BCG orosomucoid

B.     pseudohyperalbuminemia ini paling sering terlihat pada kuda dan bari sera, tetapi juga terjadi pada sera lain. Anomaly konsentrasi albumin tidak sanggup diakui dalam sample hypoalbunemic, yang hypoalbuminemia lebih parah dari pada yang ditunjukkan oleh konsentrasi yang diukur.

HIPOALBUMINEMIA
Penyakit dan kondisi yang mengakibatkan hipoalbuminemia
Penurunan sinteis albumin
  • peradangan
  • insufisiensi hepatic
  • malabsoprsi dan maldigesti
  • kurus
  • hypergammaglobulinemia
kerugian peningkatan albumin
  • kehilangan darah
  • kehilangan protein nefropati: glomerulonefritis, amiloidosis
  • kehilangan protein enteropati : penyakit mukosa usus halus,lympangiectasia,usus kehilangan darah
  • kehilangan protein dermatopati: terbakar, penyakit kulit, deksudatif umum
hemodilution
  • kelebihan pemberian cairan intravena
  • gangguan edema: gagal jantung kongesti, sirosis, sindron nefritik
  • kelebihan sekresi ADH: SIADH
I.                hipoalbuminemia biasanya terjadi dengan hyperproteinemia dan hipoproteinemia, tetapi juga sanggup dilihat bila ada normoproteinemia
II.                 patogenesa dari hipoalbunemic dijelaskan sesuai pada penggalan dysproteinemia


FIBRINOGEN
Hyperfibrinogenemia (plasma)
.      Dua penyebab utama
1.       Hemokonsentrasi : penurunan plasma H2O
2.       Inflamasi : peningkatan produksi fibrinogen oleh hati

       (TP) biasanya peningkatannya tidak teratur tapi bisa juga WRI. Biasanya, konsentrasi fibrinogen relative meningkat daripada (TP) pada inflamasi. Disertai dengan dehidrasi, peningkatan  pada (TP) dan konsentrasi fibrinogen relative sama, keduanya mengalami peningkatan 5%. Ini sangat penting untuk perkembangan dari rasio PPF. Rasio telah disempurnakan pada beberapa tahun terakhir ini dengan tidak

.      PP:F rasio  atau  rasio (TP:Fib) 
1.       Tujuan : mencoba untuk membedakan hyperfibrinogenemia dan dehidrasi.

2.        Petunjuk interpretasi orisinil dan nilai normal ditetapkan dengan rasio dari PP:F. Variasi dari rasio PP:F pada kesehatan mamalia antara spesies dan kelompok umur, paling banyak lantaran perbedaan total konsentrasi protein.

a.       Lembu : bila rasio > 15 hyperfibrinogenemia kemungkinan disertai dehidrasi, bila rasio < 10 hyperfibrinogenemia kemungkinan disertai inflamasi.
b.       Kuda : bila rasio >20 hyperfibrinogenemia kemungkinan disertai dehidrasi, bila rasio < dari 15 hyperfibrinogenemia kemungkinan disertai inflamasi.
c.       Jika dihitung secara sederhana rasio (TP:Fib) dipakai “1” harus ditambahkan untuk memperlihatkan nilai supaya constant dengan faktor yang membatasi dengan memakai rasio PP:F (e.g > pada lembu memungkinkan dehidrasi.

3.       Batas menurut dari asumsi kesehatan binatang konsentrasi TP dan Fibrinogen yang dipakai yakni WRI dan satu dari dua hal yang terjadi : binatang akan menjadi kehilangan cairan tubuh atau akan berubah menjadi penyakit peradangan.

a.       Dehidrasi sanggup disebabkan oleh peningkatan konsentrasi fibrinogen dari semua protein menjadi derajat yang sama dan kemudian perbandingan rasio TP:Fib tidak berubah.
b.       Peradangan sanggup disebabkan oleh peningkatan konsentrasi fibrinogen dan beberapa protein tetapi juga penurunan dari protein yang lain. Jadi, rasio PP:F dan (TP:Fib) akan menurun lantaran penyebut akan relatif  meningkat daripada pembilang.

4.       Faktor-faktor tambahan yang dipertimbangkan
a.       Persamaan antara kehilangan cairan tubuh dengan peradangan sanggup membuat interpretasi dari rasio menjadi lebih sulit. Peningkatan konsumsi fibrinogen pada kondisi patologi akan juga ditutupi oleh banyak sekali bayangan.
b.       Dehidrasi itu sendiri diakibatkan hanya oleh peningkatan minor pada konsentrasi fibrinogen.
c.       Batas rasio diatas tidak tepat untuk anak sapi dan anak kuda lantaran keterangan interval rasio yakni untuk binatang dewasa. Itu juga tidak tepat untuk lembu dan kuda lantaran mempunyai persamaan jalannya patologi yang sanggup mengakibatkan hypothermia.
d.       Ketelitian dari nilai refractometric yang terbaik yakni ± 0,1 g/dl. Kaprikornus keakuratan nilai kalkulasi mungkin sanggup lebih baik dengan konsentrasi fibrinogen yang tinggi. Namun harus benar-benar dipertimbangkan sebaik-baiknya asumsi yang akan terjadi.

         Kenapa konsentrasi fibrinogen dan rasio PP:F atau (TP:Fib) rasio yang dipakai pada lembu dan kuda?
1.       Perubahan leukogram pada kondisi inflamasi seringkali sedikit dan tidak mengindikasikan adanya penyakit inflamasi. Hyperfibrinogenemia sanggup terlihat atau tidak pada reflex leukogram dan proses inflamasi.

2.       Rasio dari PP:F atau rasio (TP:Fib) dipakai untuk percobaan faktor yang memilih bantuan dari kehilangan cairan tubuh menjadi proses hiperfibrinogenik.

Hyperfibrinogenemia (plasma)
.      Teknik pemanasan presipitasi cukup kekurangan analitik sensitivitas dan ketelitian untuk mendeteksi atau konfirmasi dari hypofibrinogenemia. Kuantitative kadar logam diharapkan untuk dokumentasi dari hypofibrinogenemia.

      Penyebab dari htpofibrinogenemia.
1.       Peningkatan konsumsi fibrinogen
a.       Koagulasi intravascular : local atau penyebaran deretan thrombus atau vaskulitis
b.       Peningkatan fibrinolysis : DIC
2.       Penurunan sintesis dari fibrinogen
a.       Insufficiency hepatic : harus ditandai dengan adanya penurunan pada fungsi hepatic sebelum tanda-tanda klinis yang significant terjadi hypofibrinogenemia.
b.       Kekacauan bawaan atau congenital : fibrinogemia, hypofibrinogenemia, dan disfibrinogenemia.
1.       Kadar logam yang ada dipakai untuk mendeteksi hypofibrinogemia waktu adanya thrombin atau adanya modifikasi 
2.       Afibrinogemia, hypofibrinogemia, dan dysfibrinogemia sanggup ditemukan pada anjing, tapi pengujian antigenic diharapkan untuk mengetahui kebenaran dan kekurangan fungsional yang dipilih. Kekurangan fibrinogen sanggup ditemukan pada Bichon Frise, anjing pegunungan Bernese(Bernese Senhund) dan Lhasa apso, Vizla, dan collie. Beberapa dari anjing mempunyai tanda-tanda hemoragi setelah adanya hemostasis.             


IMMUNOGLOBULIN G
I Alasan yang paling umum untuk pengukuran IgG yakni untuk mengetahui kesuksesan transfer pasif IgG dari induk ke anaknya melalui colostrum. Maka dari itu pasif transfer akan menjadi focus pembahasan penggalan ini. Konsentrasi immunoglobulin ibarat IgG, IgM, IgA, IgG(T), sanggup juga dihitung ketika mengevaluasi status immunodefisiensi congenital dan dapatan ketika menghitung potensial monoclonal gammopathies.
II Proses fisiologi
  1. Plasentasi pada kuda dan sapi mencegah transfer immunoglobulin dari induk ke anak secara in utero, sehingga kuda dan sapi yang gres lahir harus mendapatkan colostrums segera setelah lahir supaya mendapatkan immunoglobulin maternal, khususnya IgG. Setelah dicerna dan diabsorbsi, waktu paruh maternal IgG sekitar 20-30 hari pada anak kuda dan 20 hari pada anak sapi. Kurangnya transfer immunoglobulin dari induk ke anak mengakibatkan peningkatan resiko terjangkitnya penyakit infeksius dan penurunan tingkat pendapatan.
  2. Anak kuda yang gres lahir sangat membutuhkan kolostrum lantaran tidak mempunyai IgG esensial di plasmanya sedangkan anak sapi mempunyai konsentrasi IgG sangat rendah. Saat terekspos antigen, kuda yang gres lahir terstimulasi untuk memproduksi IgG dan mempunyai proteksi imunitas sekitar 10-14 hari. Intesis IgG anak sapi sanggup dideteksi dalam 8-16 hari.
  3. Fetus kuda dan sapi mempunyai kemampuan terbatas untuk memproduksi IgM, sehingga anak kuda dan sapi yang gres lahir mempunyai konsentrasi IgM yang rendah.
III Penyebab FPT
  1. Kurangnya ingesti kolostrum (yang gres lahir sangat lemah lantaran factor yang lain)
  2. Kurangnya IgG dalam kolostrum (kurangnya konsentrasi atau kurangnya volume colostrums)
  3. Kegagalan penyerapan kolostrum tercerna
IV Membuktikan ada tidaknya transfer pasif
  1. Pada anak Kuda. Sampel darah diambil antara 18 dan 48 jam setelah kelahiran.
    1. Untuk beberapa tahun, [IgG] > 400mg/dL dianggap membuktikan adanya transfer pasif. Namun, [IgG] > 800 merupakan criteria yang lebih baik dan direkomendasikan.
    2. [IgG] < 200 mg/dL mengindikasikan FPT
    3. [IgG] diantara 200 mg/dL dan 800 mg/dL mengindikasikan FPT sebagian. Konsentrasi tersebut mungkin tidak sanggup membuktikan proteksi humoral yag cukup, khususnya untuk anak kuda yang mempunyai factor resiko lebih besar.
  1. Pada anak sapi tidak sanggup dibuktikan secara pasti. Ada 2 cara. Untuk keduanya sample darah diambil antara 1 dan 8 hari setelah kelahiran.
    1. Cara I
a.       [IgG] > 1000 mg/dL mengindikasikan adanya transfer pasif
b.      [IgG] < 500 mg/dL mengindikasikan FPT
    1. Cara II
a.       [IgG] > 1600 mg/dL mengindikasikan adanya transfer pasif
b.      [IgG] = 800-1600 mg/dL mengindikasikan transfer pasif parsial
c.       [IgG] < 800 mg/dL mengindikasikan FPT
  1. Hasil dari sample darah yang diambil dari anak kuda dan sapi yang sudah lebih besar, dan apabila sakit, akan lebih sulit diinterpretasikan, lantaran IgG setengah hidup dan respon binatang yang gres lahir terhadap antigen setelah kelahirannya harus diperhitungkan.
V Metode Pengukuran / penjumlahan [IgG] pada anak kuda dan sapi
  1. Disebabkan kurangnya standarisasi dan acuan standar serum dari metode pengukuran, mungkin terjadi perbedaan konsentrasi IgG yang diukur dengan penghitungan IgG yang berbeda, sehingga panduan interpretasinya juga akan berbeda.
  2. Test SRID pada serum anak kuda dan sapi
    1. Prinsip : IgG berdifusi pada gel yag mengandung anti-equine atau anti-bovine IgG selama 18-24 jam. Diameter cincin presipitan proporsional terhadap [IgG] dalam serum
    2. Hasil : SRID dianggap sebagai test quantitative untuk penghitungan [IgG]
    3. komentar :
a.       Biasanya SRID menyita banyak waktu (waktu difusi 24 jam) dan mahal untuk penggunaan klinis rutin
b.      SRID dianggap sebagai metode standar niscaya di laboratorium veteriner; sehingga beberapa pemasaran test SRID melebihkan [IgG], khususnya pada [IgG] > 2000 mg/dL, sehingga nilai [IgG] yang dihasilkan untuk binatang yang gres lahir tampak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan yang diharapkan [TP]

  1. Test Koagulasi Glutaraldehid pada serum anak kuda dan sapi
1.      Prinsip : Glutaraldehid (10%) meningkatkan pembentukan cross-linkage molekuler menjadi endapan protein dasar ibarat banyak sekali immunoglobulin dan fibrinogen. Karena fibrinogen tidak ditemukan dalam serum, dan sangat sedikit jumlah IgM yang terdapat dalam serum kuda yang gres lahir, jumlah endapan protein sangat tergantung pada [IgG].
2.      Hasil :
a.       Untuk pengukuran [IgG] kuda
1.      Menunjukan nilai semikuantitatif (waktu penjelian berbeda dengan test yang lebih actual)
a.       [IgG] ≥ 800 mg/dL bila serum membentuk gel ≤ 10 menit
b.      [IgG] > 400 mg/dL bila serum membentuk gel ≤ 60 menit
c.       [IgG] ≤ 400mg/dL bila serum tidak membentuk gel dalam 60 menit.
2.      Sangat tepat dengan uji SRID bila [IgG] < 400 mg/dL dan [IgG] > 800 mg/dL.
b.      Untuk pengukuran [IgG] Sapi
1.      Nilai semikuantitatif
a.       [IgG] > 600 mg/dL bila serum membentuk  gumpalan padat dalam 60 menit
b.      [IgG] = 400-600 mg/dL bila serum membentuk gel semisolid dalam 60 menit
c.       [IgG] < 400 mg/dL bila serum tidak membentuk gel dalam 60 menit.
2.      Komentar
a.        Untuk menentukkan apakah [IgG] berada pada batas penentuan FPT atau tidak (>1000 atau < 1600mg/dL), serum harus diencerkan sebelum analisis
b.      Hasil dari tes koagulasi glutaraldehid tidak sanggup dipercaya bila keseluruhan darah dipergunakan.
3.      Sangat mahal dan test yang sederhana lantaran test hanya memakai glutaraldehid, tabung reaksi, dan pipet, dan tentunya memerlukan serum yang telah dipisahkan dari darah.

  1. Test Aglutinasi Latex pada serum kuda
1.      Prinsip : Butiran latex diselubungi oleh anti-equine IgG akan teraglutinasi bila terdapat equine IgG.
2.      Hasil : Merupakan uji semikuantitatif yang umumnya sejalan denganhasil uji SRID, namun tidak sebaik hasil uji koagulasi glutaraldehid.
3.      Komentar : Uji ini tidak terlalu mahal dan hanya menyita waktu 10 menit setelah pengoleksian serum.

  1. Test Turbiditas ZnSO4 pada serum anak kuda dan sapi
1.      Prinsip : Sulfat secara selektif mengendapkan protein kationik ibarat immunoglobulin sedangkan protein netral dan protein negative dihancurkan. Pada kondisi [SO4] tetap, kuantitas precipitat (turbiditas yang lebih besar) searah dengan konsentrasi immunoglobulin yang lebih tinggi. Karena terdapat IgA dan IgM  dalam jumlah sangat sedikit dalam serum anak kuda dan sapi, jumlah turbiditas mencerminkan [IgG] dalam sample.

2.      Hasil sanggup ditentukan secara visual ataupun secara turbiditimetrical.
a.       Penentuan turbidimetrik memerlukan spectrophotometer dan larutan standar untuk memilih kurva standar.
b.      Pada anak kuda, turbiditas visual terjadi ketika [IgG] mendekati 400-500 mg/dL, yang tidak cocok bila dibandingkan dengan penentuan batas FPT yang biasanya.
c.       Pada anak sapi :
1.      Dengan larutan ZnSO4 28mg/dL, kekeruhan sanggup menyimpangkan hasil uji bila [IgG] > 1600 mg/dL
2.      Hasil dengan larutan ZnSO4 (208 mg/L) dibandingkan dengan hasil uji RID
a.       Kurangnya turniditas ditemukan pada sample dengan rentang nilai [IgG] 0-2825 mg/dL (rata-rata 995 mg/dL). Turbiditas yang cukup (hasil tidak bening) ditemukan pada sample dengan rentangan nilai [IgG] dari 1085-4305 mg/dL (rata-rata 2219 mg/dL).
b.      Variasi yang terang pada hasil menunjukan uji tidak akurat untuk memperlihatkan keputusan niscaya dari transfer pasif.
3.      Dengan konsentrasi ZnSO4 yang lebih tinggi (250-400 mg/L), [IgG] yang lebih rendah menghasilkan derajat turbiditas yang sama denga [IgG] yang lebih tinggi dengan memakai 200 mg/dL ZnSO4.

3.   Komentar :
a.    Reagen ZnSO4 mungkin terbentuk dari gesekan atau kerusakan dari peralatan. Larutan pengganti harus di segel untuk menghindari absorbsi CO2.
b.    Pada anak Kuda, test turbiditas telah digantikan dengan uji yang lebih akurat dan lebih tepat. Test turbiditas ZnSO4 mengakibatkan penurunan [IgG] ketika > 400 mg/dL.
c.   Pada anak sapi, test turbiditas ZnSO4 menimbulkan hasil yang baik dari [IgG] namun tidak dianggap sebaik test presipitan Na2SO3.
d.   Keberadaan hemoglobin dari hemolisis akan meningkatkan kesalahan [IgG] bila turbiditas dihitung dengan spectrophotometer (@600nm). Peningkatan induksi hemoglobin sekitar 200 mg/dL pada 1% hemolisis dan 1300mg.dL pada 5% hemolisis.

  1. Test Pengendapan Na2SO3 pada serum anak sapi
1.      Prinsip : Sulfit secara selektif mengendapkan protein kationik ibarat immunoglobulin, protein lainnya dihancurkan. Konsentrasi sulfite yang lebih tinggi mempunyai kemampuan yang besar untuk mengendapkan lebih rendah [IgG]. Terdapat sangat sedikit IgA dan IgM pada serum anak sapi, maka kadar kekeruhan menunjukan kuantitas IgG dalam sample.

2.      Panduan untuk hasil interpretasi dengan 14%, 16%, dan 18% larutan Na­2SO3 (Konsentrasi asumsi tidak tepat dengan beberapa batasan dan hal tersebut akan sulit diinterpretasikan).
a.       Jika [IgG] > 1500 mg/dL, presipitant tampak pada larutan 14%, 16%, 18%.
b.      Jika [IgG] = 500-1500 mg/dL, presipitat tampak pada larutan 16% dan 18%.
c.       Jika [IgG] < 500 mg.dL, precipitat tampak pada larutan 18%.

3.      Pada studi lain, hasil dibandingkan dengan [IgG] dari uji RID. (Perbedaan pada hasil ini menandakkan ketidak akutaran secara potensial atau kurang kepastian dari uji-uji tersebut)
a.       Rentangan [IgG] dari 0-2400 mg/dL tanpa presipitat
b.      Rentangan [IgG] dari645-2450 mg/dL tampak presipitat pada larutan 18%
c.       Rentangan [IgG] dari 1025-4305 mg/dL tampak presipitat pada larutan 16% dan 18%
d.      Rentangan [IgG] dari 2380-3625 mg/dL tampak presipitat pada larutan 14%, 16%, dan 18%

4.      Komentar :
a.     Tes Presipitat Na2SO3 relatif tidak mahal dan cepat. Keuntungan utamamnya dari ZnSO4 yakni kemampuannya untuk memilih [IgG] pada rentang yang lebih luas.
b.      Dibandingkan dengan hasil uji RID, test pesipitat merupakan uji semikuantitatif terbaik
c.       Uji tidak bekerja baik pada serum anak kuda.

Komentar dinonaktifkan: Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini

a Artikel Terkait Prinsip Dasar Patologi Veteriner (Protein)

Cara Jitu Membedakan Burung Parkit Jantan Dan Betina

Cara Jitu Membedakan Burung Parkit Jantan Dan Betina

T 5 June 2009 F A admin

Parkit merupakan salah satu binatang rumahan favorit keluarga. Selain warna warni bulunya yang indah, burung yang termasuk dalam kategori paruh bengkok (parrot) ini juga cocok dipakai untuk sahabat anak-anak. Di Amerika khususnya, banyak orang yang memelihara parkit sebagai binatang rumahan... Selengkapnya

Macam – Macam Ciblek / Prenjak Yang Ada Di Indonesia

Macam – Macam Ciblek / Prenjak Yang Ada Di Indonesia

T 15 June 2009 F A admin

Ciblek kali ini menjadi pembahasan yang cukup menarik, mengingat banyaknya teman kicaumania yang mungkin masih awam seputar burung ciblek, terutama mengenai ragam ciblek yang terkenal di Indonesia. Ciblek (Prenjak) merupakan burung orisinil Indonesia. Namun, ada juga prenjak yang bermigrasi dari tempat... Selengkapnya

Metode Gres Penentuan Jenis Kelamin Burung Cucak Rowo Memakai Bulu

Metode Gres Penentuan Jenis Kelamin Burung Cucak Rowo Memakai Bulu

T 25 May 2009 F A admin

Cucak Rowo si burung mewah, burung Kicauan yg mempunyai harga yg sangat tinggi sekali dan sanggup dikatakan Burung Kicauan berkelas yg sanggup memperlihatkan kesan glamor kepada yg memilikinya. Burung Cucak Rowo sendiri mempunyai nama ilmiah Pycnonotus Zeylanicus yg dlm Bahasa... Selengkapnya

+ SIDEBAR